Sunday, October 2, 2011

Cuci Mata

Cuci Mata


Tukaran Pacar

Posted: 02 Oct 2011 03:05 PM PDT

Tukaran Pacar

Kejadian ini kira-kira sudah 2 tahun yang lalu, akhir Desember 98. Waktu itu kita, 2 pasang kekasih pergi berlibur ke Puncak. Yah ketika itu sekolah sedang libur. Aku mengajak pacarku Olga sedang temanku Sandy mengajak pacarnya Lisa. Kalau dibandingkan antara Olga dan Lisa keduanya sama-sama menggairahkan. Olga orangnya tomboy sedang Lisa sangat manis, kalau payudaranya lebih besar punya Olga. Kita berempat masing-masing sudah bertunangan dan rencananya akan menikah bersamaan. Karena kita sudah sangat akrab satu dengan lainnya.
Singkat cerita kami berangkat dengan mobil Vitaraku sesampainya di Puncak kami menginap di Villaku. Kami beristirahat sebentar lalu malamnya kami berputar-putar mencari angin. Di dalam mobil Sandy berpelukan dengan Lisa di belakang.
"San kamu kok sudah nggak sabar sih kan malam masih panjang" kataku.
"Habis dingin banget nih" jawabnya. Dengan kaca spionku aku dapat melihat dengan jelas mereka berciuman dan tangan Sandy bergerilya di sekitar dada Lisa, wah tegang aku jadinya melihat mereka dan Lisa tampak sangat cantik malam ini.
"San kalau kamu gitu aku jadi nggak tahan lho.." kata Olga.
"Kamu duduk belakang sekalian aja", jawab Lisa.
"Edan keenakan Sandy dong", jawabku.
"Nggak apa-apa to Ric kan sama temen kok dianggap sama orang lain", jawab Sandy.
"Boleh khan yang", tanya Olga.
"Terserah kamu aja jika pingin nyoba sana pindah" jawabku, lalu Olga langsung pindah ke belakang. Sandy jadi duduk di tengah, dia mencium Olga dan Lisa bergantian.
"Nanti sesampai di Villa ganti aku nyoba Lisa ya..", tanyaku.
"Boleh", sahut mereka serempak.
Karena sudah tidak tahan aku putar mobilku dan langsung kembali ke villa. Aku langsung rangkul Lisa dan aku ciumi, aku lakukan itu di ruang tengah, sedang Olga dan Sandy nonton TV.
"Ric yuk kita main berempat di kamar aja" ajak Sandy.
"OK, aku dan Lisa sih pasti mau-mau aja cuman Olga apa mau jika kamu ikut? sebab kamu kan jelek, gantengan aku?".
"Ngejek ya aku sih malah takut jika Olga nanti ketagihan sama kontolku".
Lalu kami berempat mulai masuk ke kamar utama. Kami berempat lalu telanjang bulat.
Pertama-tama kami ciuman aku dengan Lisa sedang Olga dengan Sandy. Kita sih sudah sering melakukan hubungan seks tapi kalau berganti pasangan dan main secara bersama sih baru kali ini. Aku lirik si Olga dia sudah mulai mengisap kontol Sandy, sedang Sandy merem-melek keenakan. Aku sedang mainin clitoris Lisa dengan lidahku dia sangat terangsang kelihatannya.
Lalu aku ganti diisep oleh Lisa. Kalau isapannya sih enakan isapan Olga, si Lisa kurang pengalaman kali.
"Mari kita main bareng", ajakku.
Lalu kita berempat tiduran di karpet si Lisa mengisap kontolku dan aku mainin memek Olga dengan mulutku, sedang Sandy diisap Olga dan Sandy mainin memek Lisa. Kami main posisi begitu dengan berganti-ganti pasangan.
Setelah puas aku main dengan lisa, memeknya aku masukin kontolku, kontolku lebih besar dari punya sandy cuman kalah panjang. Memeknya sih lebih nikmat punya Lisa sebab lebih kecil ukurannya dan tidak terlalu becek jadi lebih nikmat rasanya.
Kami main ber posisi dan juga berganti pasangan. Setelah puas aku dan Sandy keluarin di mulut pacar masing-masing. Dan malam itu aku tidur dengan Lisa dan Olga tidur dengan Sandy.

T A M A T

3 vs 1 (Three in One)

Posted: 02 Oct 2011 02:59 PM PDT

3 vs 1 (Three in One)

Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya "kanguru". Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),
"Bisa saya bantu?" kataku kepada mereka.
"Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang."
Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.
"Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya," jawabku.
"Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua hari yang lalu?" lanjutku lagi.

Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, "Kurang ajar si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!"
"Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih," yang berwajah Jepang protes.
"Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha," sekarang bule bermata biru nyeletus.
Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga. "Iya deh, sekalian numpang minum," kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.

Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.
"Nama saya Jacky," kataku.
"Khira," kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).
Yang berambut panjang menyusul, "Emily," (Campuran Italia dengan Inggris).
"Saya Eve," gadis bermata biru ini asal Jerman.
"Jacky, kamu berasal dari mana?" lanjutnya.
"Jakarta, Indonesia," jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.
Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.
"Aduh, panas sekali nich?!" si Emily ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.

Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,
"Jacky, boleh kami main internetnya?"
"Silakan," jawabku.
Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.
"Mau nge-chat yah?" tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.
"Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan," lanjut Emily lagi.
"Eh, kaliankan masih di bawah umur?" kataku mencoba untuk protes.
"Paling umur kalian 17 tahun kan?" sambungku lagi.

Khira menyambut, "Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja." Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar "gituan" yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily. Kontolku terasa berdenyut. Setengah kencang. Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki kontol besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan kontol laki-laki putih yang tak kalah besar kontolnya dengan kontol si negro itu. Terasa kontolku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh kontolku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya, "Ada apa?" Eve menjawab, "Khira bilang, sikutnya terbentur kontolmu," katanya.

Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab, "Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal." Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak kontolku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,
"Jacky, boleh nggak kalau kami lihat kontolmu?"
Aku tersentak dengan pertanyaan itu.
"Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur."
(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).
"Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji," si Emily mewakili mereka.
"Please Jacky!" sambungnya.
"Oke, tapi jangan diketawain yah!" ancamku sambil tersenyum nafsu.

Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak kontolku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.
"Gila gede banget!" kata mereka hampir berbarengan lagi.
"Nah! Sekarang apa lagi?" tanyaku.
Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih berdiri tertegun memandang kontolku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya. "Boleh kupegang Jack?" tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala kontolku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, "Uuuh.." karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam kontolku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku, "Kamu punya film biru Jack?" Sambil terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve lagi untuk masukan saja langsung ke video.

Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap kontolnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala kontolku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku. Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.
"Uuh.. sshh.. uuhh.. sshh.." aku merasa nikmat.
Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve memburu.
"Jacky.. oohh.. Jacky.. teruss.. oohh.." nikmat Eve terdengar.
Kemudian terasa setengah kontolku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.
"Slep.. slep.. chk.. chk.."
Itulah yang terdengar paduan suara antara kontolku dan mulut Khira. Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.

Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang memeknya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.
"Aaahh.. Jacky.. aahh.. enak Jacky.. teruskan.. aahh.. teruss Jacky!" jerit Emily.
Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah memeknya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah memek Eve, terasa menggigil memek Eve.
"Aaahh.." Eve sampai puncaknya.

Aku pun mulai merasa menggigil dan kontolku terasa semakin kencang di mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan memek Emily, karena Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi, "Aahh.." Sambil meninggalkan barang Emily, kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah kontolku. Terdengar, "Heerrkk.." Rupanya Khira ketelak oleh kontolku dan mencoba untuk melepaskan kontolku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah kontolku. Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya terhadap kontolku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, "Sudah.. sudah.. aku ngiluu.. sudah.." pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, "I Love you, Jacky!" aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata, "Thank you Khira!"

Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.
T A M A T

Dua Saudara Kembar

Posted: 02 Oct 2011 02:57 PM PDT

Dua Saudara Kembar

Perkenalkan nama saya Joe, umur sekarang 21 th, orang biasa manggil saya Irvan, tampang saya sebenarnya sih biasa-biasa saja bisa dibilang cukup pendek malah tetapi mungkin saya sudah punya bakat alam untuk merayu cewek, mungkin ini juga salah satu pengaruh karakter saya yg cenderung sanguinis, mudah bergaul. Pegalaman sex saya ga bisa dibilang banyak, cuma pernah main sama mantan pacar saya aja. Kali ini saya mau cerita salah satu pengalaman sex saya dengan 2 kakak senior saya di perguruan tinggi.

Ceritanyan bermula ketika saya mulai masuk perguruan tinggi pada saat OSPEK. Waktu itu salah satu senior yg menjadi mentor saya adalah seorang cewek cakep banget, body nya ok banget tuh, rambutnya panjang dan dikuncir dibelakang. Orangnya sering pake baju yang rada ketat jadi bodynya yang indah itu dapat kulihat, ingin rasanya tenggelam dalam pelukannya.

Diam-diam sewaktu dia pulang saya buntutin dia biar tahu di mana rumahnya, ternyata rumahnya itu tidak terlalu jauh dari rumah kost saya, dan yang membuat saya lebih kaget adalah yang membukakan pintu itu seorang cewek yang mukanya juga mirip sama dia bodynya juga sama-sama ok, yang membedakan hanya model rambutnya, cewek yang membukakan pintu itu rambutnya hanya sebahu lebih dan tidak dikuncir, saya pikir mereka ini pasti saudara kembar. Besoknya hari terakhir OSPEK saya sengaja minta tanda tangan ke dia sambil sekalian kenalan sama dia. Sesudah dia kasih tanda tangan saya tanya namanya, namanya Susanti, dan gak lupa juga saya tanyain dia

"Eh, omong2 kemarin saya lagi lewat rumah lu saya juga ga sengaja liat satu cewe yang ngebukain pintu buat lu, wajahnya kok sama kamu sama sih, punya saudara kembar ya, ci, tapi kok sekarang orangnya ga keliatan sih?"
"Ooo, jadi kamu juga udah melihat si Susanna nih, wah ga seru nih lu jadi ga ketipu dong kalo saya kibulin..!".
Kami pun bercanda dan mengobrol. Sejak saat itu kami pun mulai akrab saya juga udah mengenal kembarannya yang bernama Susanna yang lebih tua beberapa menit dari Susanti.

Mereka lebih tua 1 tahun dari saya dan 2 angkatan di atas saya. Saya sering pergi ke rumah mereka yang kebetulan ga terlalu jauh dari kampus, saya ngerasa ada sedikit hati sama Susanti karena kalo ngobrol lebih klop rasanya. Mereka pun sering ke kost saya dan saya kenalin sama temen kost lainnya. Setelah beberapa bulan kira-kira pukul 3 siang mereka datang ke kost saya. Mereka bilang mau pinjam komputer buat ngetik soalnya komputer dirumah mereka lagi rusak katanya.

Saya pun mempersilakan mereka masuk ke kamarku yang juga ruang kerjaku. Sementara Susanti sibuk mengetik, saya ngobrol sama Susanna, ternyata nih anak rada2 gendeng juga, obrolannya kadang-kadang suka nyerempet-nyerempet ke arah seks segala, beda dari adiknya yang sedikit tenang. Dia juga sibuk melihat majalah-majalahku.

"Wah, ga seru nih kok majalah komputer sama sport semua nih " katanya.
Tanpa kusadari dia menemukan VCD blue yang saya sembunyiin antara halaman majalah.
"Wah ketahuan nih, bandel yah, sembunyiin barang kaya ginian"
Wajah saya agak malu apalagi pas ketangkep basah di depan Susanti, cewek yang saya suka itu. Sebenarnya itu film lama dan saya juga udah bosen ngeliatnya, makannya saya sembunyiin aja di sembarang tempat.

"Wah boleh juga nih, saya juga udah lama ga liat lagi yang kaya gini, stel dong Van, boleh ga?"
"Wah, itu kan si Santi lagi sibuk, komputernya lagi dipake tuh"
"Ini bentar lagi selesai kok tinggal di save aja nih" jawab Susanti.
Saya rada heran ngedenger jawaban Susanti, "Wah, ini kan film ga baik Ti, masa lu mau liat juga nih" jawab saya.

"Saya belum pernah liat tuh, sekali-sekali kan saya juga pengen tau kaya apa sih film yang bisa bikin laki-laki tergila-gila tuh, ya ga Van".
Tidak lama kemudian Susanti berkata, "udah nih Van, udah saya save lagi, mana dong janjinya, stel dong VCD nya. Mumpung masih belum terlalu malem nih".
"Iya, kita cewe juga boleh dong ngeliat, bukan cowok aja dong, kan emansipasi nih" Susanna menambahkan.
Akhirnya saya terpaksa mengalah setelah didesak mereka berdua dan menyetel VCD porno itu dan kami menontonnya. Kami duduk di ranjang menontonnya, saya duduk di sebelah Susanti dan Susanna di sebelah Susanti. Dalam film itu terlihat adegan seorang pria sedang menyetubuhi 2 orang wanita secara bergantian, adegan itu membuat nafsu seks ku bangkit, ditambah lagi ada 2 cewek cakep di sini dan mereka berdua juga kelihatannya cukup terangsang juga.

Aku mulai memberanikan diri menggenggam tangan Susanti dan dia juga tidak menunjukkan reaksi menolak, tangan saya mulai usil meraba pahanya yg pada saat itu cuma memakai celana pendek kemudian saya berkata pada Susanti, "Gimana Ti, filmnya bagus ga?", dia hanya mengangguk menjawab pertanyaanku. Entah apa yang merasukiku saat itu tahu2tahu tangan saya udah mulai menyelinap ke bawah baju kaosnya dan meraba punggungnya yg halus dan lalu membuka tali BH-nya ssetelah itu tanganku mulai meraba payudaranya yang indah, dan saat itu dia mendesah

"Aaahh!" Susanna yang melihat kami berdua sedang diam-diam asik langsung berkata "Loh, kok mainnya cuma berdua aja sih, gak ngajak-ngajak nih!"
Selesai berkata demikian dia langsung pindah tepat duduk ke sebelah kiriku, jadi sekarang saya dalam posisi diapit 2 orang wanita.
"Wah kaya surga aja nih", kata saya dalam hati.
Saya lalu berkata pada Susanti yg saat itu juga udah ga bisa kendaliin dirinya.
"Saya buka aja yah bajunya, Ti, biar lebih nyaman" setelah dia memperbolehkan akupun langsung membantunnya untuk membukakan bajunya, sementara itu Susanna membantuku membuka celanaku.

Saya jadi tambah horny begitu melihat body Susanti yang lagi polos pada saat itu, ditambah lagi Susanna juga membuka bajunya setelah dia membukakan celana dalamku, tabah ngaceng aja kontol saya deh, kini kami bertiga sudah dalam keadaan polos bugil. Susanti duduk disebelahku dan saya meraba-raba payudaranya sambil beradu lidah dengannya, sementara Susanna duduk belutut di antara kedua kakiku sambil mengemut dan menjilati kontolku.

Kepalaku sudah turun ke payudara Susanti dan saya menjilati putingnya yg indah berwarna merah muda itu dan tangan ku yang satunya lagi meraba-raba memeknya yang berbulu lebat dan sudah mulai basah itu. Susanti yang pada saat itu sedang dimabuk oleh nafsunya itu mendesah.
"Uhh, terus Van, terusiin, udah mau keluar nih. Ahh..!"
Lalu Susanna berkata "Cepetan Van, kalo Santi udah puas saya juga mau digituin nih".
Habis berkata dia meneruskan menjilati kontol saya. Setelah beberapa saat saya mempermainkan klistoris Susanti saya mulai merasakan keluar cairan hangat dari sana, dan Susanti mendesah panjang sambil memeluk erat badanku.

Di saat yang sama pula saya mencapai kepuasan dikulum Susanna, spermaku muncrat membasahi muka Susanna, dan dia menelan spermaku yang masih tersisa, Susanti juga berlutut ikut menjilati spermaku yang masih belepotan di kontol saya. Tiba2 kudengar pintu kamarku dibuka dari luar, dan yang masuk adalah Andry, teman kost ku yang juga roomateku. Benar2 pada saat itu saya kaget bagai disambar petir, baru sadar kalo Andry juga ternyata ada memegang kunci kamar ini dan yang lebih tolol lagi adalah grendel pintu lupa kukunci.

Begitu dia masuk saya langsung mengambil bantal menutupi kontolku, si kembar juga kaget dan mengambil pakaian mereka menutupi bagian terlarang mereka, untung pada saat itu mereka cuma sedang menjilat kontolku, kalo sedang mengemut kan gawat, bisa tergigit adik saya nih. Andry yg baru masuk menutup pintu lagi dan terbengong beberapa detik sambil memandangi kami yang hanya tertutupi oleh barang seadanya, lalu berkata

"Kalian lagi ngapain? Kok ga ngajak2 sih?"
Belum sempat ada yang menjawab dia sudah mendekati Susanna dan mengambil tisu membersihkan cipratan maniku di wajahnya. Dan Sussana pun tanpa diperintah dia langsung membukakan baju Andry. Melihat itu rasa kagetku pun mulai pulih kembali saya menarik Susanti duduk dipangkuanku berhadap-hadapan, dan kumasukkan kontolku ke dalam memeknya, ternyata Susanti masih perawan, terbukti ketika kumasukkan kontolku agak sulit, akhirnya dengan sepenuh tenaga akhirnya berhasil juga, dan kudengar juga suara sobekan selaput daranya diseratai sedikit darahnya.

Lalu kugenjot tubuhnya dalam pangkuanku, saya tambah horny lagi waktu melihat payudaranya yang bergoyang2 naik turun, kumainkan kedua benda itu, lalu kubuka juga kucir rabutnya sehingga rambutnya tergerai panjang, membuatnya bertambah seksi, penampilannya mengingatkanku pada foto model bugil Jepang, Chisato Kawamura. Waktu itu kulihat juga Andy sedang melakukan anal seks dengan Susanna. Ternyata Andry adalah orang yang suka main sex secara kasar, kulihat dia sambil menggenjot Susanna, tangannya menjambak rambutnya dan tangan satunya lagi meremas-remas payudaranya.

Setelah Andry puas dengan Susanna dia minta untuk berganti pasangan denganku, Saya sebenarnya agak keberatan soalnya Susanti itu kan gadis yang saya sukai, tapi kulihat Susanti mengangguk menandakan dia setuju.
"Nggak apa-apa kok Van, ini kan cuma permainan aja, boleh ya".
Saya pikir-pikir ya benar juga akhirnya saya juga setuju aja deh. Susanti pun meninggalkan ku dan menuju ke Andry, saya bergantian berjalan ke arah Susanna, dan membaringkannya telentang di ranjangku dan kumasukkan kontolku ke dalam memeknya, dia kelihatannya sangat menikmati permainan ini, dan kutahu bahwa Susanna sudah tidak perawan, tapi memeknya masih kencang, sepertinya jarang dipakai.

Pantas saja dia kelihatannya lebih berpengalaman waktu oral seks sebelumnya tadi, selain itu juga sifatnya lebih agresif. Tapi mereka berdua memang sama-sama enak rasanya kok. Saya rada ga enak juga waktu melihat Susanti dijilat-jilati tubuhnya oleh Andry dan sesudahnya disetubuhi olehnya.

Yah singkat cerita akhirnya kami berempat bermain sampai puas, si kembar akhirnya terbaring lemas bermandikan keringat dan air sperma, saya dan Andry pun sudah merasa puas dan cukup lelah, kira-kira jam 6 sore si kembar berpamitan pulang, setelah sebelumnya beres-beres dan membersihkan diri dulu. Mereka tidak mandi di sini karena takut kelihatan penghuni kost lain jangan-jangan mereka jadi curiga, kan bakal runyam deh jadinya.

Sekarang mereka sudah lulus dan Susanti sudah pergi ke luar negri mengambil S2, yang masih tinggal cuma Susanna yang sudah mempunyai pacar. Aku sendiri pun sudah mempunyai pacar sendiri.

T A M A T

Tante Cantik Impianku

Posted: 02 Oct 2011 02:56 PM PDT

Tante Cantik Impianku

Hi, nama saya Andreas, teman biasa memanggil saya "Andrew". Saya seorang expat (bule) yang telah lama tinggal di Jakarta, dan saya ingin bertanya kepada anda: Pernahkah anda memiliki fantasi seksual terhadap seorang wanita? Wanita itu dapat menjadi siapa saja! Bisa jadi guru anda di sekolah dulu, dosen di universitas, teman kerja, bos atau bawahan bahkan mungkin pembantu di rumah anda! Yang jelas wanita itu pasti memiliki sesuatu yang membuat nafas anda sesak setiap kali mengingatnya. Well, saya punya! dan percaya atau tidak, saya adalah salah satu lelaki beruntung diantara jutaan lelaki yang lain, mengapa? Karena anda akan menemukan bahwa segala impian dan fantasi seksual saya akan menjadi kenyataan. Dari dulu saya memang selalu menyukai wanita Asia, mungkin salah satu alasan mengapa saya mau ditugaskan oleh kantor saya di Jakarta, tempat yang tadinya saya tidak pernah tahu eksistensinya, tempat yang tadinya saya tidak tahu akan ada wanita seperti Yuli.
Hmmh, Yuli oh Yuli.. Dia memang tidak memiliki buah dada sebesar Pamela Anderson, tapi buah dadanya yang sedikit lebih besar dari kepalan tanganku selalu terbayang di dalam blouse kerjanya ditutupi bra hitam tepat di bawah leher panjang dan bahu indah warna kuning langsat khas wanita Asia. Yuli memang tidak memiliki postur tubuh seindah Cindy Crawford, tetapi pinggangnya yang kecil selalu menemani pinggul indah bak apel dan hmm.. pantatnya yang ranum selalu terbayang! Tak ketinggalan kaki kecilnya yang panjang bak peragawati menopang pahanya yang putih bersih ditutupi rok mininya yang sexy! Takkan habis hasratku menginginkan dirinya! Terbayang selalu diriku di atas tubuhnya yang ramping putih meremas buah dadanya! Menarik turun rok mininya! Dan memasukan kontolku kedalam memeknya! Memompanya dengan cepat! Dan lebih cepat! Dan.. "Andrew?"
"Oh.. Hi! Yul.." dengan gelagapan aku menjawab sapaan Yuli yang entah telah berapa lama berada di hadapanku yang sedang melamun sambil minum sendirian di Hard Rock Cafe ini. He he, malunya aku!
"Andrew, kamu lagi ngapain di sini?" Sekali lagi dia menyapaku.
"Yul! Ngga sangka ketemu kamu di sini", jawabku cepat menutupi kagetku.
Yuli menjawab dengan senyuman sambil berkata: "Aku sih emang sering ke sini! Seneng deh bisa ketemu kamu, hihi.. kamu sendirian kan? Aku join kamu yah? yah?"
Sebelum sempat aku menjawab, Yuli telah menarik bangku dan duduk di sampingku, dan kuberpikir "Ya Tuhan betapa anehnya ini.."
Lalu selanjutnya kita berdua telah asyik berbicara ngalor-ngidul . Tak kusangka Yuli ternyata kuat minum. Pembicaraan kami diwarnai oleh pesanan baru yang selalu datang mengganti gelas cocktailnya yang mulai kosong. Sementara konsentrasiku untuk minum telah luluh-lantak dihancurkan sepasang bahu indah ditemani leher panjang di atas belahan dada putih milik Yuli, sang fantasi seksualku yang tiba-tiba datang menghampiri! Yuli malam ini memang lebih sexy dari biasanya ditutupi gaun sackdressnya yang berwarna merah menyala.
Dan kuberpikir lagi, "Oh Tuhan mimpi apa aku semalam?"

Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 3 pagi. Dari cara Yuli berbicara dan raut mukanya, kutahu bergelas-gelas cocktail yang Dia minum telah memberikan hasil sesuai yang diinginkannya. Yuli mabok. Tidak ada hal lain yang dapat kulakukan selain meminta kunci mobilnya dan memaksa untuk mengantarnya sampai di rumah. Yuli tidak melawan dan dengan pasrah masuk ke dalam mobil di kursi penumpang depan.
Kumulai menyupirkan mobilnya sampai tiba-tiba Yuli berkata, "Drew! Aku nggak bisa pulang lagi mabok kaya beginih.. Ke rumah kamu aja yahh.. aku tidur rumah kamu dulu boleh kan Drew?"
Aku berpikir "Terima kasih Tuhanku!"

Setibanya di apartemenku, kubimbing dia ke kamar tidurku, Yuli langsung duduk di tempat tidur.
Tersenyum aku sambil mencopot sepatunya, kuberpikir "Ya Tuhan betapa indah dan sexynya sepasang kaki putih laksana kapas ini.. dan hmmh.."
Tiba-tiba terdengar bisikan yang berkata, "Jangan Andrew! Dia mabok! Kamu nggak boleh mempergunakan kesempatan! Itu tidak gentleman !"
Lalu, "Man! lihat betapa sexynya pundak si Yuli, lehernya.. pahanya.. Ohh"
Dan, "Andrew! Kamu bukan orang seperti itu!"
Lalu, "Ingat Andrew! Kapan lagi kamu punya kesempatan seperti ini, jangan bodoh!"
"Sial!!" dalam hatiku.
Ada seorang wanita cantik dan sexy, idamanku, fantasy seksualku, duduk di tempat tidurku dan aku malah bingung harus gimana.
"Sial! Sial! Sial!"

Ketika aku sedang sibuk sendiri dengan pikiranku, tiba-tiba, "Andrewhh.. sini Andrew.. Hhh" rintih Yuli.
Tanpa berpikir dua kali aku mendekat seperti anak buah dipanggil majikan dan berkata, "I.. Iya Yul.. Ada yang kamu mau? Air putih mungkin?"
"Aku mau kamuhh, Andrew sayanghh.." Yuli menjawab.
"Deg!" tak kuasa kutahan degup jantungku yang semakin menderu-deru.
Belum sempat kuberpikir lebih lanjut, kulihat jari-jari mungil Yuli telah berada di ikat pinggangku bersamaan dengan tangan putih berbulu halusnya.
"Aku ingin kamu Andrew.. "
Sekali lagi Yuli membuka bibirnya yang basah dan ranum memerah, "Iya Andrewhh.. malam ini!" Yuli meneruskan desahannya.
"Tapi.. Yul.." belum sempat kuhabis berucap, tiba-tiba jari-jari mungil tadi dengan perlahan membuka ikat pinggangku dan dengan bantuan lengan yang indah berbulu halus tadi menarik turun celana blue jeansku dengan mudah tanpa perlawanan dariku.
"Ohh Yuli.. Aku tak tahu ini benar dilakukan atau.." jawabku.
"Ssst.. Aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya dengan orang putih sepertimu Andrew.. " Yuli memotong, dan mulai menarik turun celana dalamku.
"Hmmh, memang Punyanya bule sepertimu lebih besar dari pada orang kita."

Yuli dengan genit memandangi kontolku yang memang sudah mulai mengeras. "Yul.." Aku yang merasa harus mengatakan sesuatu.
Kembali dipotong olehnya sambil berkata, "Kamu harus tau kehebatan cewek Indonesia Drewhh.. mmhh," sambil berkata demikian Yuli mendekatkan wajah cantiknya ke kontolku dan sambil mengedip-ngedipkan bulu matanya yang panjang dan lentik .
Yuli mulai mengecupnya, "Mmmuuah.. cup.. cup.." Bibirnya yang merah ranum mulai menjelajahi kepala kontolku yang mulai mengeras dan terus mengeras.
"Aku belum pernah dengan kontol segede gini.. hihi," godanya genit dan kali ini menjulurkan lidahnya ke batang kontolku dari bawah kembali ke atas menyentuh kepala kontolku lagi.
"Mmmhh," godanya lagi.
"Shh.. hh," aku cuma bisa mendesis, tak terbayang betapa terangsangnya aku oleh kejadian ini!
Dan, "Emmhh," Yuli memasukkan setengah kontolku kedalam mulutnya yang mungil, dan kepalanya mulai bergerak naik turun secara perlahan.
"Ughhooghh.. Yuli! yeah!" Aku merintih menahan rasa nikmat dari mulut Yuli yang basah dan hangat.
Yuli sejenak menarik keluar kontolku dari mulutnya dan berkata, "Emm.. Enak nggak sayang?"
Lalu kembali melumat dan menghisap kontolku kali ini dengan ritme yang lebih cepat, "Mmm.. mm..mm.."

"Arrgghh!! Yuli! Oh Yuli.." Aku mulai mengerang agak keras karena merasakan lidah halus Yuli bergerak-gerak di dalam mulutnya yang hangat sementara kepala Yuli terus bergerak naik turun bertambah cepat.
"Ouugghh!!" Kali ini aku tidak dapat menahan hasrat yang meluap-luap di dalam diriku.
Kutarik turun gaun sackdress yang dipakainya sehingga terlihat punggung putih mulus berbulu halus sedikit tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam lebat. Yuli tidak memakai bra. Kemudian kuteruskan lagi menarik turun sampai terlihat celana dalam putih tipis berenda yang membalut pantat putih kemerah-merahan yang ranum. Lalu kujulurkan tanganku yang panjang mencoba meraih liang kewanitaan yang tersembunyi di bawah pantat ranum putih miliknya. Dan tersentuh olehku daging halus sedikit berbulu yang telah basah oleh cairan lubrikasi tanda siap untuk bercinta!

"Ohh Yuli.. hh kamu sudah basah," ku bertutur terbata-bata.
"Hmm.. hmm.." Kata-kataku dijawab Yuli dengan hisapan yang lebih cepat dan liar terasa cepat melumat seluruh batang kontolku.
"Ghhaahh.. Yuli!!" Aku kembali mengerang dan mulai menggerak-gerakkan jari-jariku di bagian apa saja dari liang memeknya yang dapat kuraih! Trus dan trus kujulurkan jariku sampai menyentuh klitorisnya.
"Mmmhh!" Kali ini terasa reaksi dari Yuli karena Ia mengerang keras sambil membalas dengan mempercepat hisapan dan lumatannya ke batang kontolku.
"Urrghh!! hmm," aku tidak mau kalah dan kembali membalas dengan menggetarkan secara cepat sekali jariku di atas klitorisnya!
"Uoohh.. ohh," tak tahan Yuli mengeluarkan kontolku dari dalam mulutnya, merintih dan mulai menggenggam batang kontolku dan mengocok cepat naik turun.
"Uhh.. mmhh.. ohh.. yeahh!!" Berdua kami mengerang, merintih, menikmati sentuhan masing-masing sampai akhirnya Yuli tiba-tiba mendekatkan mukanya kepadaku. Yuli mulai menciumi dan melumat bibirku dengan bibirnya yang merah basah.

Kubalas ciumannya sambil kupeluk dan kuelus punggung mulus dan rambutnya yang tergerai di belakang.
"Hmmhh.." Sambil berciuman, Yuli merentangkan kedua kaki mulus jenjangnya dan naik keatas ku.
"Sekarang Andrewwhh.. hh.. hh.. ambillah aku sekaranghh.." Yuli berkata dengan nafas memburu sambil menatap lekat wajahku dengan paras cantiknya.
Dengan penuh nafsu kutarik turun celana dalamnya dan kupegang batang kontolku dengan tangan kanan, juga selangkangan Yuli dengan tangan kiri. Lalu mulai memasukkan dengan perlahan kepala kontolku kedalam liang memeknya yang merah menyala basah ditumbuhi rambut-rambut hitam halus indah di atasnya.
"Hoohh.. sshh," Yuli mendongak ke atas sambil memejamkan matanya dan mendesis merasakan kenikmatan penetrasi kepala kontolku di lubang memeknya yang lalu kusambut dengan memasukkan batang kontolku lebih dalam lagi. "Bles!"
"Uhh.. yeah!! Andrewhh!"
"Ohh Yulihh.." sambil kuangkat badan Yuli sedikit dan kulepas lagi sehingga naik turun di atas badanku.
"Ouurgghh.. ahh.."

Kali ini Yuli mengerang semakin keras dengan raut wajah sedikit meringis sambil berkata lagi, "Terus Andrewhh.. gerakin lagi lebih cepat shh.. mmhh.. yeahh.."
Terus terang tidak mudah bagiku untuk bergerak cepat memompa Yuli naik turun di dalam jepitan memeknya yang sempit dan hangat seolah ingin menyedot seluruh kontolku masuk ke dalam.
"Ohh.. mm.. mmhh.. shh.. yeahh.." Yuli tanpa henti-hentinya merintih, mengerang dan menggeram mesra seiring kunaikkannya kecepatan tubuhnya yang mulai basah berkeringat naik turun di atasku sambil kubenamkan terus lebih dalam kontolku ke dalam liang memeknya yang semakin hangat terasa meremas-remas dan memijat-mijat kontolku.
"Ohh Yuli .. ohh kamu suka sayanghh?" Aku bertanya di sela-sela rintihan, buruan nafas dan erangan kita berdua.
"Hhh.. Cepat lagi sayanghh.. mmhh. cepat lagihh!" Rintih Yuli semakin bersemangat dan mulai menggerak-gerakan pinggul mulus sexynya dengan gerakan erotis kekiri dan kekanan yang membuat liang memeknya semakin sempit hangat membara, menyedot dan memuntahkan kuat kontolku keluar masuk semakin cepat dan keras.

"Arrgghh!! Yeahh!" Geramku sambil membalas dengan menggenjotkan pantatku ke atas untuk membantu kontolku menghunjam dan menusuk lebih dalam lagi.
"Uhh.. ahh. ahh.. ahh.. ohh.. uuhh.. uhh.. uhh..urrgghhaa!" Jerit Yuli menyambut genjotan hebat yang kuberikan kepadanya tanpa henti sehingga terlihat wajah cantik Yuli memejamkan kedua matanya lalu meringis hebat sambil menggigit bibir bawah yang merah basah.
"Mmmhh!!" dan membuka mulutnya lagi "Uuuhh!!" Terasa seluruh tubuhnya menggelinjang, bergetar hebat menuju puncak kenikmatan dan orgasme berulangkali yang kuberikan kepadanya tanpa ampun. Terasa sakit genggaman jari-jemarinya yang mungil sedikit mencakar dan menggengam keras di kedua pundakku diikuti dengan seluruh tubuhnya menegang dengan seketika. Akhirnya, "Serr!" Terasa cairan hangat mengguyur batang kontolku yang sedang memompa keras di dalam liang memeknya. Yah! Puncak orgasme. Yuli telah mencapainya.
"Uuuoohh.. hoh.. hh.. hh.. hoh.. hohh.. hh," terengah-engah nafas Yuli memburu.
Seluruh tubuhnya yang putih indah telah habis basah kuyup oleh keringatnya, tidak ketinggalan rambutnya yang juga tidak kalah basah. Terasa tegang tubuhnya berkurang. Genggamannya melemas, dan tubuhnya jatuh lemah lunglai di atas tubuhku yang juga telah basah kuyup diguyur keringat.
"Hhh..hh..hh.. mmhh kamu emang hebat Andrew.. aku belum pernah merasa sepuas ini oleh lelaki sebelumnya.." Tutur Yuli.

Saya kira tidak perlu saya ceritakan lagi apa yang terjadi seterusnya, karena cerita ini bukan mengenai diriku, melainkan mengenai fantasi seksualku, di mana saya berharap andapun akan mengalami hal yang serupa dengan fantasi seksual anda.
T A M A T

Tidak Berdaya

Posted: 02 Oct 2011 02:55 PM PDT

Tidak Berdaya

Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Namun aku berkacamata dan tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tetapi entah kenapa aku banyak disukai pria. Bahkan ada yang terang-terangan mengajakku berkencan. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Padahal hampir semua teman-temanku yang laki-laki mengejek dan berkata bahwa aku Gay.

Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalan-jalan memakai pakaian olah raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tetapi entah kenapa, hari itu aku memakai baju olah raga, bahkan memakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orang-orang yang ternyata cukup banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar berjalan-jalan menghirup udara yang masih bersih.

Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah, dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang-orang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit anak-anak yang bermain dengan gembira.

Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang pria yang langsung duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup tampan wajahnya dan bertubuh atletis.
"Jalan-jalan yuk..!" ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.
"Kemana..?" tanyaku sambil mengikutinya berdiri.
"Kemana saja, dari pada bengong di sini.." sahutnya.
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya, dan pria itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu, dan aku juga belum mengetahui namanya.

"Eh, nama kamu siapa..?" tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.
"Sendy Wiratama.." sahutku.
"Akh.., kayak nama perempuan.." celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.
"Kalau aku sih biasa dipanggil uwak.." katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.
"Nama kamu bagus..," aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.
"Eh, boleh nggak aku panggil kamu Dik Sendy..? Soalnya kamu pasti lebih muda dari aku.." katanya mengusulkan.

Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi perutku memang sedang lapar. Sambil makan Uwak banyak bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Uwak memang pandai membuat suasana jadi akrab.Selesai makan bubur ayam, aku dan pria itu kembali berjalan-jalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali, justru Uwak yang mengajak pulang lebih dulu.

"Mobilku di parkir disana.." katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang cukup banyak terparkir.
"Kamu bawa mobil..?" tanyaku heran.
"Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum.." katanya beralasan,"Kamu sendiri..?" sambungnya.
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.
"Ikut aku yuk..!" ajaknya langsung.
Belum juga aku menjawab, Uwak sudah menarik tanganku dan menggandengku menuju ke mobilnya.

Sebuah mobil Starlet warna hitam ter-paintbrush dengan indah dan tampaknya masih cukup baru. Uwak malah memintaku yang mengemudi. Untungnya aku sering pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Uwak langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan pria itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan Perak, sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Uwak menahan dan memaksaku untuk singgah.

"Ayo.." katanya sambil menarik tanganku.
Uwak memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya, bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa teman yang baru dikenalnya ke dalam kamar.
"Tunggu sebentar ya..!" kata Uwak setelah membawaku ke dalam sebuah kamar, dan aku yakin kalau ini pasti kamar Uwak.

Sementara pria itu meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tetapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tetapi bersama empat orang temannya yang sebaya dengannya. Dan pria itu memiliki wajah yang lumayan tampan dan bertubuh kekar. Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat. Aku benar-benar terkejut, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba sekali, sehingga aku tidak sempat lagi menyadari.

"Aku dulu.., aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini.." kata Uwak tiba-tiba sambil melepaskan bajunya.
Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Uwak bukan hanya menanggalkan bajunya, tetapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar-debar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Uwak mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali. Baru kali ini aku melihat dada yang begitu besar dan padat. Uwak mendekatiku, tetapi keempat pria lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.

"Eh, apa-apaan ini? Apa mau kalian..?" aku membentak kaget.
Tetapi tidak ada yang menjawab. Uwak sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tetapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga telentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Uwak saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tetapi keempat pria mengonani penisku. Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat seperti tersengat aliran listrik ketika merasakan jari-jari tangan Uwak menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang penisku.

Seketika itu juga batang penisku tiba-tiba menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat penisku dikocok-kocok dengan bergairah oleh Uwak. Aku hanya dapat merasakan seluruh batangan penisku berdenyut-denyut nikmat. Aku benar-benar kewalahan dikeroyok lima orang pria yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tetapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tetapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpi-mimpiku. Aku benar-benar tidak berdaya ketika anusku serta mulutku dimasukkan oleh benda tumpul. Saat itu juga aku langsung menyadari kalau mereka Homo.

Sementara itu Uwak menyodomiku dengan gairah yang sangat menggebu-gebu. Anusku terasa tercabik-cabik oleh benda yang sangat besar dan tumpul. Dan salah satu dari teman Uwak memasukkan penisnya ke dalam mulutku, sehingga aku tersedak oleh benda itu. Beberapa detik kemudian aku merasakan sperma Uwak menyemprot ke dalam lubang pantatku, sehingga tubuhku merasa ngilu dan mengejang. Lalu mereka bergantian menyodomiku dan memulai kembali menggenggam batang penisku erat-erat dengan genggaman tangannya. Dengan cepatnya teman Uwak menggenjot kembali lubang anusku. Aku merasakan bagaikan tertusuk-tusuk.

Tidak lebih dari dua jam Uwak menyodomiku lagi, dan tiba-tiba dia menjerit dengan tertahan dan teman Uwak tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu, aku dapat merasakan semprotan spermanya. Setelah itu teman Uwak yang lain menggenjot kembali lubang pantatku. Setelah mereka berlima baru saja mendapatkan orgasme, mereka menggelimpang di sebelah tubuhku, setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya. Sementara itu aku hanya dapat merenung tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkin aku dapat melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini..? Aku hanya dapat berharap mereka cepat-cepat melepaskanku, sehingga aku dapat segera pulang dan melupakan semuanya.
T A M A T

Surabaya Cantik

Posted: 02 Oct 2011 02:54 PM PDT

Surabaya Cantik

Pagi ini aku sedang membereskan pakaianku untuk dimasukkan ke dalam koper. Ayahku memperhatikan dengan wajah sedih karena aku satu-satunya anak lelakinya harus pergi demi meraih masa depanku. Aku akan tinggal di Surabaya bersama Tante dan Oomku.
"Papa harap kamu bisa menjaga diri dan berbuat baik, menurut pada Oom Benny dan TanteLenny..." kata papaku.
Aku hanya diam menoleh menatap papaku yang nampak kurang bersemangat karena kepergianku, lalu kupeluk papaku.
"Saya tidak akan mengecewakan Papa.." kataku sambil menuju ke pintu.
Aku naik angkot menuju ke terminal bus. Ketika sudah di atas bus, aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya sambil berharap semoga cita-citaku dapat tercapai. Sesampainya di terminal, aku melanjutkan dengan naik angkot menuju perumahan mewah di daerah Darmo.
"Apa ini rumahnya..?" kataku dalam hati.
Nomornya sih bener. Maklum aku belum pernah ke rumahnya.
"Gila.., ini rumah apa istana..?" gumamku bicara pada diriku sendiri.
Aku segera menekan bel yang ada pada pintu gerbang. Beberapa saat kemudian pintu gerbang dibuka. Seorang satpam berbadan gemuk mengamatiku, lalu menegurku.
"Cari siapa ya..?" tanyanya.
"Apa betul ini rumah Oom Benny..?" tanyaku balik.
"Ya betul.. sampean siapa?" tanyanya lagi.
"Saya keponakan Oom Benny dari Jember."
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Sampean pasti Den Wellly, kan..? Tuan sedang keluar kota, tapi Nyonya ada lagi nungguin."
Sekejap aku sudah berada di ruangan dalam rumah mewah yang diisi perabotan yang serba lux. Tak lama kemudian seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan bertubuh seksi muncul dari ruang dalam. Kalau kutebak usianya sekitar 35 tahunan, tapi bagikan seorang gadis yang masih perawan.
Dia tersenyum begitu melihatku, "Kok terlambat Well..? Tante pikir kamu nggak jadi datang.." ucap wanita seksi itu sambil terus memandangiku.
"Iya Tante.. maaf..." jawabku pendek.
"Ya sudah.., kamu datang saja Tante sangat senang.. Pak Bowo.., antarkan Welly ke kamarnya..!" perintah Tante Lenny pada Bowo.
Lalu aku mengikuti Pak Bowo menuju sebuah kamar yang ada di bagian bawah tangga. Aku cukup senang menempati kamar itu, karena aku langsung tertidur sampai sore hari. Ketika bangun aku segera mandi, lalu berganti pakaian. Setelah itu aku keluar kamar hendak jalan-jalan di halamanbelakang yang luas. Ketika sedang asik menghayal, tiba-tiba suara lembut dan manja menegurku. Aku agak kaget dan menoleh ke belakang. Ternyata tanteku yang sore itu mengenakan kimono dengan rokok di tangannya, rupanya ia baru bangun tidur.
"Oh Tante..." sapaku kikuk.
Tante tersenyum, dan pandangan yang nakal tertuju pada dadaku yang bidang dan berbulu lebat. Badanku memang cukup atletis karena sering berenang, fitness, dan aku memang mempunyaiwajah yang lumayan ganteng.
"Kamu sudah mandi ya, Wel..? Tampan sekali kamu.." kata tanteku memuji.
Aku kaget bukan main ketika ia mendekatiku, tangannya langsung mengelu-elus kontolku, tentu saja aku jadi salah tingkah.
"Saya mau ke kamar dulu Tante.." kataku takut kalau nanti dilihat Oom Benny.
"Tunggu sebentar Wel, Tante ingin minta tolong mijitin kaki Tante.., soalnya keseleo waktu turun tadi.." kata Tante Lenny sambil merengek.
Lalu dia duduk seenaknya, hingga kimono yang tidak dikancing seluruhnya tersingkap, dan bagian dalam tante terlihat olehku. Gila.., ternyata ia tidak memakai CD, sempat juga kulihat bulu-bulu tipis di sekitar memeknya seperti habis dicukur.
Aku menahan nafas dan mencoba mengalihkan pandangan, tapi Tante Lenny yang tahu hal itu malah menarik lenganku dan mengangkat kaki kanannya menunjukkan bagian yang sakit. Aku terpaksa melihat betis dan paha tante yang mulus dan padat itu.
"Tolong diurut ya Wel.., tapi pelan-pelan aja ya.." ucapnya lembut.
Terpaksa aku memijit betis tanteku, meskipun hatiku cemas dan bingung. Apalagi ketika aku mencuri pandang melihat paha dan selangkanganya, sehingga nampak sekilas bagian yang berwarna merah muda itu. Tanteku melirik ke arahku sambil tersenyum genit, aku semakin bingung dan malu.
Itu pengalamanku di hari pertama di rumah Oom Benny. Sudah tiga Hari Oom Benny belum pulang juga, padahal aku ingin bertemu dengannya, sedangkan tiap malam aku diminta oleh tante untuk menemaninya ngobrol, bahkan tidak jarang disuruh menemani menonton VCD porno. Benar-benar gila.Hingga pada suatu malam tanteku merintih kesakitan. Waktu itu tante sedang nonton TV sendirian.
Tiba-tiba wanita itu memekik, "Achhhh.., aduh.., tolong Wel..!" keluhnya sambil memegangi keningnya.
"Kenapa Tante..?" tanyaku kaget dan khawatir.
"Kepala Tante agak pusing.., aduh... tolong bawa Tante ke kamar Wel..!" keluh tante sambilmemegangi kepalanya.
Aku jadi kebingungan dan serba salah.
"Saya panggil Pak Bowo dulu ya Tante..?" usulku sambil ingin pergi.
Tapi dengan cepat tanteku melarangnya, "Nggak usah, lagi pula Pak Bowo Tante suruh ke Pasuruan ngawal barang."
Aku jadi bertambah bingung. Terpaksa kutuntun tanteku untuk naik ke ruang atas. Tante merebahkan kepalanya pada pelukanku, aku jadi gemeteran sambil terus menaiki tangga.Sesampainya di dalam kamar, tante merebahkan tubuhnya yang seksi itu dengan telentang. Aku menarik napas lega dan bermaksud meninggalkan kamar. Baru saja kubalikkan tubuh, suara lembut itu melarangku.
"Kamu mau kemana..? Jangan tinggalkan Tante.., tolong pijitin Tante.. Wel..!"
Mendengar itu seluruh tubuhku jadi teringat pesan papa agar menuruti perkataan Oom dan Tanteku.
Perlahan kubalikkan badan, ternyata tanteku telah melepas kimononya. Dan kini hanya tinggal CD saja. Tubuhnya yang masih padat membuat nafsuku naik, payudara yang masih montok dan menantang itu membuat kontolku mulai tegang, karena aku belum pernah melihat keindahan tubuh wanita dalam keadaan telanjang seperti ini, apalagi tanteku menggeliat perlahan. Desahan bibirnya yang tipis mengundang nafsu dan birahiku, dan kontolku semakin dibuatnya tegang. Kuberanikan diri melangkah menuju ranjang.
Begitu sampai, tanteku yang pura-pura pusing itu tiba-tiba bangkit, lalu memelukku dan mencium bibirku dengan penuh nafsu. Wanita yang hipersex itu dengan cepat melucuti seluruh pakaianku.
"Jangan Tante.., jangan, saya takut.." pintaku sambil mau memakai pakaianku kembali.
"Kalo kamu menolak, Tante akan teriak dan mengatakan pada semua orang bahwa kamu mau memperkosa Tante..." ancam tanteku.
Aku hanya terdiam dan pasrah. Wanita itu kembali mencumbuku, diciuminya dan dijilatinya tubuhku. Begitu tangan halusnya mengenggam kontolku, aku langsung membalas ciumannya dan mulai menjilati payudaranya, lalu kukulum putingnya yang berwarna merah agak kecoklatan itu. Tanteku mendesah perlahan.
Selanjutnya kami memainkan posisi 69, sehingga kontolku dihisap dan dikemutnya. Nikmat sekali,kurenggangkan kedua pahanya sambil kujilat-jilat memeknya yang mulai basah itu.
"Ahhhh.., aahhh.., ayo terus jilat Wel..! Jangan berhenti..!" erang tanteku keenakan.
Rupanya tanteku mengeluarkan cairan dari dalam liang memeknya. Cairan itu memuncrat di wajahku, lalu kuhisap dan kutelan semua. Aku semakin terangsang, kujilati lagi kali ini lebih dalam, bahkan sampai ke duburnya. Kemudian kami berganti posisi, kali ini aku berdiri dan tante jongkok sambil mengulum kontolku yang sudah sangat tegang.
Ternyata tanteku pandai sekali menjilat kontol, tidak sampai lima menit aku sudah keluar.
"Ahhh.., ayo Tante.., terus jilat sayang.., acchhh..!" desahku sambil kudorong keluar masuk di mulutnya kontolku yang besar ini.
"Tante mau keluar nih.., achhh.. yeahhh..!" erangku sambil kumuncratkan maniku di mulutnya.
Tante menelan semua maniku, bahkan masih mengocoknya berharap masih ada sisanya.
Setelah beberapa saat kontolku mulai bangun kembali. Setelah tegang dibimbingnya kontolku masuk ke liang memeknya. Kali ini aku di atas dan tante di bawah. Agak susah sih, mungkin sudah lama tidak service oleh Oom Benny. Setelah kepalanya masuk, kudorong perlahan hingga masuk semuanya ke dalam.
"Ayo Wel..! Gerakin dong Sayang..!" pinta tanteku sambil menggerakkan pantatnya ke atas dan ke bawah karena ia sekarang berada di bawah.
Akhirnya kudorong keluar masuk kontolku dengan gerakan yang cepat, sehingga semakin keras erangan tanteku.
Beberapa saat kemudian aku sudah ingin keluar, "Aahhh..! Tante.., Welly udah mau keluar.., ahhh..!" kataku.
"Sabar Sayang.., Tante sebentar lagi nih..! Yeahh.. ohh.. ahh.., **** me Wel..! Kita barengan ya Sayang..? Oh.. yeah..!"
Rupanya tanteku juga hampir orgasme. Rasanya seperti ada yang memijat-mijat kontolku dan kakinya dilingkarkan ke pantatku. Tante bergetar hebat dan memelukku sambil memeknya mengeluarkan cairan yang menyemprot kontolku. Tidak lama aku juga mengeluarkan air mani dan spermaku di dalam memeknya. Terasa begitu nikmatnya dunia ini. Akhirnya kami berdua terkapar lemas.
"Hebat bener kamu Wel.., Tante nggak nyangka baru kali ini Tante merasakan kenikmatan yang luar biasa..!" tuturnya dengan nafas terengah-engah.
Aku diam tak menjawab, tapi dalam hati aku merasa bersalah telah berhubungan dengan tanteku dan takut ketahuan Oom Benny. Tante turun dari ranjang tanpa busana, lalu dia menyalakan sebatang rokok.
"Bagaimana kalau Oom Benny sampai tahu, Tante..? Saya takut.., saya merasa berdosa..." kataku lemah.
Tapi tanteku malah tersenyum dan memelukku dengan mesra.
"Asal kamu tidak memberitahu orang lain, perbuatan kita aman. Lagi pula Oommu itu udah nggak bisa melakukan hubungan badan sejak lama. Dia itu impotent, Wel..!" tutur wanita tanpa busana yang penuh daya tarik itu.
"Jadi semua ini Tante lakukan karena Oom Benny tidak bisa menggauli Tante lagi, ya..?" tanyaku.
"Ya. Bukan sekali ini saja Tante melakukan hal seperti ini.., sebelum sama kamu, Tante pernah melakukannya dengan beberapa teman bisnis Oommu. Terus terang Tante nggak tahan kalau seminggu tidak disentuh atau dipeluk laki-laki.." tutur Tante.
Aku jadi geleng kepala mendengar penjelasan tanteku. Lalu aku bergerak mau pergi, tapi dengan cepat tante menahanku dan mengusap-usap dadaku yang berbulu.
"Well.., kamu harus bersihkan badanmu dulu.., mandilah supaya segar..!" ucapnya lembut.
Aku tak menjawab hanya menarik nafas panjang, lalu melangkah ke kamar mandi. Tubuhku terasa letih namun puas juga.
Begitulah pengalaman di Surabaya yang kualami 6 tahun yang lalu. Dan sampai saat ini aku telah mempunyai istri dan seorang anak.
T A M A T

Berawal dari SMS

Posted: 02 Oct 2011 02:52 PM PDT

Berawal dari SMS

Hari itu aku seperti biasa mencuci motor , ku basahi motor ku dengan sabun lalu ku gosok gosok sampai berbusa,setelah berbusa aku bilas dengan air sampai bersih , belum aku keringkan dengan kanebo, eh tiba2 ada suara sms dari hp ku, ku lihat hpku lalu kubaca pesan singkat yang terkirim dari nomor yang tak ada di memori di hp ku, kupikir ini nomer siapa ? lalu kubaca isi sms nya yaitu "Hai ,Apa kabar sayang ?" Aku pikir salah sambung ,aku diamkan saja.
Malam dingin dan sedikit rintik2 hujan tapi aku tetap saja membawa motor ku ke jalan untuk menjemput istriku pulang kerja,maklum malam itu dia lembur jadi dia pulang tak seperti biasa. Segera ku tarik gas tuk melaju kan motor ku.

Tiba di tempat kerja istriku aku tunggu dulu sampai keluar dari tempat kerja istriku itu, aku tunggu sambil memainkan hp ku lalu aku di kejutkan kembali oleh sms yang muncul di layar hpku, ku buka kembali sms itu dan ku baca "Say,kok gak di balas sms aku sich ,kenapa dah lupa ya ma aku? "
aku pun membalas sms itu karena aku pikir dia salah sambung sampai dua kali aku jawab "Maaf mungkin anda salah sambung ! "
"Aku shinta bekas pacar mu dulu !"
Aku sangat terkejut dengan balesan sms tadi ,rupanya dari shinta bekas pacarku dulu,tapi dia ada perlu apa kok sekarang dia sempat2nya sms aku setelah selama 2 tahun lost contact
Setelah dia meninggalkan diriku 2 tahun yang lalu karena married dengan cowo yang lain,hatiku sempat broken, tapi aku tetap menerima keputusan nya karena shinta menuruti apa yang di perintah kan oleh orang tuanya karena mereka menjodohkan dengan pria pilihan mereka(ortu).
Aku langsung telepon aja dia, "Shinta,gimana kabar kamu ?" Shinta: "aku baik saja ?" .segera kuhentikan telepon ku "Shinta,nanti lagi yah aku telepon" karena aku melihat istriku sudah keluar dari kerjaannya dan mulai berjalan mendekati aku.
"Telepon dari siapa a ? " ujar istriku " Oh ,itu dari teman lama " tapi aku gak bilang dari shinta karena istriku pasti marah kalo itu telp dari Shinta bekas pacarku dulu.
Pagi hari nya aku pun pergi ke tempat pekerjaan ku seperti biasa, setelah sampai di tempat kerja aku pun langsung melakukan pekerjaan ku seperti biasanya.
Jam menunjukan angka 12 itu artinya aku mulai beristirahat setelah pergi makan keluar aku berdiam diri sekaligus memikirkan mengenai kejadian kemarin malam ketika aku di sms ma Shinta, aku berpikir kenapa dia menghubungiku lagi padahal dia sudah berkeluarga dan punya momongan.
Hp ku pun kembali berbunyi dan ketika ku angkat ada seorang wanita berkata "Halo,selamat siang sayang ?" dan aku pun menjawab "Siang" oh rupanya si shinta lagi .Kami pun mengobrol ngalor ngidul mengenai hubungan kita di masa lalu,aku pun kembali mengenang masa2 indah aku dulu sama dia ,Tapi ah sudah lah itu hanya masa lalu saja.gak akan terulang kembali lagi pula kita berdua sudah memiliki kehidupan masing2.
"Deni,Kamu masih sayang gak sama aku?" kata shinta .Aku pun terkejut kenapa dia bisa sampai bisa berbicara seperti itu. "Aku masih sayang banget ma kamu ,tapi kita kan sudah berbeda saat ini" aku jawab. lalu dia berkata "Den,kalo kamu masih sayang ma aku ,aku ingin bertemu ma kamu lagi tapi tanpa sepengetahuan istri kamu,aku hanya ingin curhat saja ma kamu mengenai rumah tangga aku" Aku tidak bisa menolak karena dia memohon kepadaku dan berjanji hanya satu kali ini saja.
Aku pun mengiyakannya dan bersedia untuk bertemu lagi dengan nya.
Singkat cerita aku pun menunggu di tempat yang telah di sepakati yaitu di tempat biasa restoran tempat langganan kami dahulu , lalu aku melihat seorang wanita yang mulai mendekati tempat aku.Aku lihat dari dekat dan ternyata Shinta.Aku perhatikan wajah dia semakin cantik aja gumamku dan kulihat tubuhnya begitu sintal dengan payudara yang menurut aku sich besar jika di banding dengan kepunyaan istriku.
Aku bergumam lagi andai kami dulu jadi menikah pasti aku sangat senang.
"Hai,melamun aja,!" Shinta berkata kepadaku memecah keheningan aku.
"Shin,kamu semakin cakep aja semenjak aku di tinggal ma kamu" aku menggodanya dan dia pun terlihat senang.
"Oh ya da apa kamu mau mau ketemu ma aku lagi?"
"Kenapa gak boleh yah,ya udah aku pulang lagi nich"
"Tidak aku bercanda aja kok" ujar ku
"Aku gak bahagia Den"
"kenapa kamu gak bahagia terus bilang ma aku?""Sambil aku menyantap makanan
"Aku gak bahagia dengan suami aku sekarang aku mau mendapatkan kebahagian lagi ma kamu den". Katanya dari dulu juga Shinta masih sayang sama aku
Aku mendengarkan semua uneg2 di pikiran dia selama dia menjalani kehidupan rumah tangga dia. Aku turut sedih aja mendengar nya .Selama ini dia menderita karena suami nya selingkuh dengan teman sepekerjaan nya.shinta bercerita ma aku.
Shinta mengetahui nya karena membaca sms2 hp suaminya.Puncak nya yaitu ketika ada sms dari selingkuhan suami dia yang isi nya yaitu "Yang,malam ini kita ketemu di hotel Preanger aja yah aku tunggu di loby jam 20.00 wib."
Lalu shinta pun pergi ke tempat tersebut dan melihat dengan mata kepala sendiri,melihat suami nya bertemu dengan teman ceweknya itu,lalu mereka berdua masuk kedalam kamar."Seperti itu lah Say kelakuan suami aku" shinta berkata sambil menitikan air mata. Aku bilang kok punya istri cantik (shinta) masih bisa2 nya selingkuh. Aku langsung mengusap air matanya dengan sapu tangan.
Rupanya pembicaraan kami berdua tak terasa dan aku lihat sekarang sudah jam 22.00 wib.
"Shin,aku antar kamu pulang yah"
"Jangan ,aku gak mau pulang?"
"terus gimana anak kamu ,kan kasihan dia di tinggal ma kamu"
"anak ku sudah aku titipin sama neneknya,aku pokoknya gak mau pulang ?"
"trus kamu mau kemana malam ini?"
"kemana aja yang penting gak pulang kerumah suami aku"
Aku pun bingung karena kalo di bawa kerumah ku pastinya istriku marah.
"malam ini aku titipin kamu di tempat teman ku aja yah,kebetulan rumah nya saat ini lagi di kosong karena teman ku sedang keluar kota?"
"Ok"
Akhirnya kami sampai di rumah teman ku itu, aku menelpon dulu ma teman ku mau pinjam rumah nya selama dia di luar kota untuk di tinggali sama shinta.rupanya teman ku akan pulang satu bulan lagi.
Aku pun masuk kedalam rumah kulihat agak sedikit berantakan dan aku membersihkan nya maklum rumah orang bujangan seperti ini aku bilang.
Setelah semua rapi aku duduk di sofa dan shinta pun mendekati aku dan bilang lagi
"Den,aku sangat sayang sama kamu"
"aku pun sayang ma kamu " ujarku.
Mungkin karena situasi dan kondisi kami saat itu sangat mendukung maka terjadilah peristiwa yang seharusnya tak boleh terjadi.
Aku menatap kedua bola mata nya agak lama lalu aku berkata aku sayang kamu.
Aku pun mulai memeluk nya erat dan mulai ku ciumi bibirnya yang merah itu,hatiku saat itu sangat berdebar dan sensasi nya sangat nikmat sekali mungkin karena aku sudah lama tidak berciuman ma dia.
Sambil berciuman aku meraba2 payudaranya dan aku perlahan membuka kancing bajunya satu persatu akhirnya shinta hanya berbalutkan bra dan cd.aku lihat warna nya pink dan ada renda2 disisi2nya.aku semakin melotot aja ketika shita melepas cd dan bra nya.
kuciumi bibirnya lalu keleher nya "oh..oh..oh..uh..uh.."ujar shinta karena ku masukan jari tengah ku ke liang nikmat miliknya.
setelah agak basah liang nikmatnya aku pun meminta shinta untuk membuka semua baju ku dan mengulum kontolku.
dia pun mau.
"Ooooh..oh…..uhhhh….ohh terus shin..sepongan kamu sangat nikmat"
kami pun melakukan posisi 69 dan kita saling menjilat kenikmatan2 kami.
"oh..oh..oh….oh..ohh..uh..uh..haaaah….ouh. …" hanya suara itu saja yang kudengar dari mulut shinta dan aku.
"Shin,sudah yah aku masukin aja sekarang"
"Iya sayang masukin aja"
Aku pun merubah posisi dan sekarang kita berhadapap2an aku mulai memasukan kontolku ke liang memek shinta. "Sleb..sleb..sleb.."agak sedikit susah memasukan nya,tapi berkat perjuangan aku pun bisa menembus ke dalam liang memek shinta.
kurasakan nikmat yang tiada tara ketika kontol ku bergesekan dengan dinding2 memek shinta."Ohhhhhhh…..ohh..ohh..ohh"
Aku melihat shinta pun sangat menikmati gesekan2 itu.
Lama2 aku mempercepat tempo masuk keluarnya kontolku itu dan aku berkata ma shinta"Sayang aku mau keluar sekarang nich"
"iya sayang aku juga mau keluas bentar lagi" ujarnya
"oh….oh….oh….ohhhohhh..ohh"
Shinta pun semakin erat saja dan aku pun semakin cepat penetrasinya"
Hingga aku mengeluarkan semua tenaga ku yang tersisa dan kami pun mendapat orgasme berbarengan
"oh.. oh.. oh.. oh.. oh.. uh.. uh.. uh.. uhh.. ooooooh…….…… ooohhhhh.."
aku pun terkulai di atas tubuh shinta dan shinta pun sama sama relaksasi.
"Sayang nikmat sekali bercinta denganmu sandai kamu adalah suami aku"
"sayang aku juga merasakan nikmat yang susah untuk aku ungkapkan"
T A M A T

SemuanyaTergila-gila padaku

Posted: 02 Oct 2011 02:51 PM PDT

SemuanyaTergila-gila padaku

Kalau ada orang yang benci pada dirinya sendiri, barangkali aku adalah orangnya. Aku sungguh benci pada tubuhku, wajahku, rambutku dan semuanya. Ya.., perasaan itu semua timbul karena segala kelebihan yang kumiliki justru mengancam diriku sendiri. Berkali-kali jiwaku terancam karena mereka ingin memperkosaku.

Yang Jebih mengherankan adalah mereka bukanlah orang lain, melainkan orang-orang yang aku kenal. Orang yang sangat dekat dengan diriku. Sungguh memalukan.

Sampai sekarang aku masih terus memikirkan mengapa orang-orang di sekelilingku ingin memperkosaku. Ya ayah kandung, ayah tiriku, dan paman. Entah mengapa mereka begitu bernafsu melihatku. Padahal mestinya mereka jadi pelindungku. Aku hampir tak percaya akan semua ini. Begitu berat beban yang harus kupikul sehingga aku hampir bunuh diri. Kupikir hanya itu jalan satu-satunya untuk keluar dan persoalan ini.

Beruntunglah saat aku mengambil pisau dapur ketahuan paman. Saat itu juga aku dicegah untuk tidak melanjutkan niatku. Aku terksiap begitu dibentak paman, "Apa kamu sudah gila ya?" Mendengar itu aku cuma bisa menangis, tak kuasa berbuat apa-apa. Rasanya segala yang kuperbuat serba salah.

Waktu itu aku memang ikut paman, setelah ayah dan ibu bercerai. Aku berpikir dengan ikut paman akan lebih aman. Tidak berpihak kepada ayah maupun ibu. Biarlah paman Sebagai pengganti orang tuaku.

Di rumah itu aku diberi kamar sendiri. Kebetulan paman dan bibi tidak punya anak. Hitungannya aku ini sebagai anak angkatnya. Mugkin karena itu aku sangat diperhatikannya, meski aku diambilnya ketika usiaku sudah menginjak remaja, 16 tahun.

Hari-hari pertamaku tinggal bersamanya dengan penuh keceriaan. Akupun mulai lupa dengan persoalan ayah dan ibu. Kupikir tak ada gunanya aku ikut memikirkan persoalan mereka, toh aku sudah dewasa.

Dalam sehari-hari aku memang tergolong gadis yang lincah. Dalam berbusana aku paling suka dengan rok mini. Mungkin karena aku senang menampakkan kelebihanku pada paha dan kaki yang putih mulus. Ditambah tubuhku yang ramping dan padat berisi. Dengan tinggi badan 167 cm dan berat 48 kg, ditunjang dengan kesempurnaan payudaraku yang berukuran 36C memang membuat banyak pria yang tertarik bahkan tergila-gila pada diriku.

Sungguh aku tak menyangka jika kesempurnaan penampilanku yang seperti itu malah menjadi bumerang. Memang banyak pria kemudian tergoda melirikku. Tapi yang tidak kusangka sama sekali kalau bahkan pamankupun ikut tergoda.

Malam itu aku tidur tanpa sempat ganti baju. Tidak biasanya aku memang ganti baju. Hanya kalau ingin saja, aku ganti baju tidur. Saat tidur itulah rupanya aku lupa mengunci pintu kamar. Aku baru terbangun ketika kurasa ada tangan nakal mengusap-usap pahaku. Betapa aku terkejut, ternyata yang ada di sisi tempat tidurku adalah pamanku sendiri. Aku terpekik, tapi seketika itu juga tangan paman membekap mulutku.

Dengan penuh harap aku memohon agar paman tak melanjutkan niatnya. Pamanpun memohon maaf dan menyatakan kehilafannya. Kuakui istri paman memang tidak begitu cantik. Ia juga tak begitu pintar merawat diri, sehingga tubuhnya yang gemuk dibiarkan begitu saja. Dalam berpakaian sekenanya, paling banter pakai daster lusuh atau kaos oblong. Kupikir-pikir memang, kok mau-maunya paman sama bibi. Apa tidak ada wanita lain, kata batinku.

Aku tak menyalahkan kalau kemudian paman melirik wanita lain, yang tidak kumengerti karena wanita yang dipilih adalah aku, kemenakannya sendiri. Untuk beberapa hari aku masih terus berpikir, jangan-jangan paman akan mengulangi perbuatannya lagi. Itu makanya setiap tidur aku tak bisa nyenyak. Kadang-kadang tengah malam aku terbangun, hanya khawatir paman tiba-tiba masuk kamarku.

Setelah kupikir-pikir, akhirnya kuputuskan untuk keluar dari rumah paman. Daripada tiap hari hatiku tak tenang. Sebenarnya bibi sempat bertanya-tanya tentang keinginanku itu. Apalagi aku masih sekolah, saat itu kelas 2 di sebuah SMU Negeri di Surabaya. Tapi dengan alasan aku kangen pada ayah, dia pun melepaskanku. Pamanku sendiri memaklumi, bahkan masih sempat minta maaf berkali-kali padaku. Rupanya dia sangat menyesali perbuatannya.

Selanjutnya aku memang pergi ke rumah ayah di Bali. Aku sudah tak ingat dengan sekolahku. Pikirku yang penting bagaimana bisa terbebas dari rasa takut. Aku berharap dengan ikut ayah hatiku bisa tentram. Sejak pisah dengan Ibu, ayah memang tinggal di sana karena alasan dagang. Ternyata ayahku sudah menikah lagi dengan seorang gadis asal Kalimantan. Ayahku sendiri berasal dari Sunda.

Aku lebih memilih tinggal bersama ayah karena ibuku telah menikah lagi Bahkan ibu telah menikah untuk kedua kalinya. Yang terakhir dia menikah dengan seorang pegawai negeri.

Ketika melihat aku datang, ayah sangat senang. Kebetulan dari pernikahan dengan gadis Kalimantan itu, ayah belum juga dikaruniai anak. Jadilah aku dijadikan anak yang manja. Bagi ibu tiriku juga tak masalah. Dia menganggapku sebagai adiknya, kebetulan dia masih sangat muda, usianya sekitar 30 tahun.

Di rumah ini pun aku mendapatkan sebuah kamar. Hari-hariku boleh dikata lebih banyak bersama ibu tiri. Itu karena ayah terlalu sibuk dengan usahanya di luar. Aku hanya bertemu ayah ketika terlambat tidur, atau pagi sekali sebelum dia berangkat kerja.

Sekali waktu aku sudah tertidur pulas ketika ayah datang. Saat itulah ayah masuk ke kamarku yang hanya ditutup kain gorden. Lagi-lagi kejadian serupa yang dilakukan paman terjadi. Aku terbangun ketika ayah sedang asyik mengusap-usap pahaku. Saat itu aku memang sedang mengenakan rok mini. Mungkin ayah sangat terangsang saat menatap rokku yang tersingkap. Aku tak menyangka sama sekali jika ayah bisa berbuat seperti itu. Tidakkah ia ingat bahwa aku ini anaknya, darah dagingnya.

Mengapa dia mesti berbuat seperti itu kepadaku. Toh dia sudah punya istri. Apalagi istrinya juga tidak jelek-jelek amat dan masih muda. Tapi itulah manusia, ketika sudah dikuasai nafsu, akal sehatnya pun hilang. Andai saja aku tak terbangun, entah apa yang terjadi. Mungkin aku sudah ditindihnya. Rupanya Tuhan masib menyayangi diriku. Sejak kejadian itu pikiranku kembali kalut. Kadang-kadang aku berpikir betulkah aku ini anak kandungnya. Jangan-jangan aku cuma anak angkatnya, Sebab kalau memang aku anak kandungnya, mengapa ayah, paman tak melihat aku sebagai bagian dari dirinya.

Seperti ketika paman hendak memperkosaku, akupun berkali-kali menyadarkan ayahku. Aku meminta agar ayah sadar. "Sadarlab pak! Ingat aku ini anakmu masak tega menodai..", kataku setengah berbisik karena takut terdengar ibu tiriku. Untunglah ayah tak memaksa, dan dia pun minta maaf atas apa yang baru ia lakukan.

Esok harinya kami berusaha bersikap seperti biasa, seakan tak terjadi apa-apa. Ayah pun segera berangkat, sepertinya dia sangat malu atas kejadian semalam. Tinggalah aku merenung. Aku lebih banyak berdiam di kamar dengan pura-pura membaca majalah. Padahal hatiku sangat gelisah.

Tidak lama setelah kejadian itu, akhirnya kuputuskan kembali ke Surabaya. Kupikir biarlah aku hidup bersama ibu dan ketiga adik-adikku Selama ini, tiga adik-adikku itu, 2 laki-laki dan seorang perempuan, memang ikut ibu. Barangkali dengan hidup di rumah yang banyak orang aku terhindar dan tangan-tangan jahil. Aku yakin bahwa di rumah ibu lebih aman, apalagi ayah tiriku usianya sudah 50 tahun. Jadi tak mungkin dia macam-macam. Aku juga sekamar dengan adik-adikku.

Sejak saat itu aku juga mulai menjaga penampilanku. Aku tak lagi senang memakai rok mini meski itu menjadi busana favoritku. Tapi barangkali sudah suratan nasibku harus jadi korban kebiadaban. Aku tak habis pikir ada apa sebenarnya ditubuhku sehingga bisa memancing hasrat para lelaki untuk memperkosaku.

Hari ini, siang hari, ketika adik-adikku pada sekolah dan ibu ke pasar. Tiba-tiba saja ayah tiriku yang biasa kupanggil abah sudah mendekapku dari belakang. Belum sempat aku bertanya, dia sudah membalikkan tubuhku dan mendorongku ke tempat tidur. Dalam posisi berhadap-hadapan, akhirnya aku berusaha lepas sambil mengingatkannya. Aku memohon pada abah agar dia tak melakukannya. Pada saat-saat genting itulah ibu datang dan menyelamatkan diriku.

Aku langsung keluar dan mengadu pada ibu. Di pangkuannya aku menangis sejadi-jadinya. Mengetahui kejadian itu, ibu sangat marah. Tapi rupanya abah sudah pergi meninggalkan rumah. Sejak saat itu ibu mewanti-wanti. Ia bilang kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan mengatakannya.

Entah sudah berapa hari abah tidak pulang, tapi yang kutahu kemudian Ibu mencaci maki abah ketika kembali ke rumah. Abah rupanya sadar dan minta maaf berkali-kali kepada Ibu. Ia juga memanggilku kemudian minta maaf atas perbuatannya. Aku dan Ibu akhirnya berangkulan dan bertangis-tangisan. Kulihat abah hanya menunduk lesu di kursi. Barangkali juga menangis.

Sejak kejadian itu aku betul-betul dibuat bingung. Mau pergi, tapi mau kemana lagi. Sepertinya aku lolos dan mulut singa, tapi masuk mulut buaya. Akibat kejadian demi kejadian, aku jadi takut dekat laki-laki. Setiap ada laki-laki yang ingin mendekat, aku jadi curiga. Aku betul-betul trauma, tak tahu harus bagaimana menghadapinya.

Berhari-hari aku merenung, tapi ibu terus membesarkan hatiku agar tabah menghadapi cobaan ini. Yang penting belum terjadi kan? Percayalah untuk kedua kalinya takkan terulang lagi. Imi akan menjagamu Nak", kata ibuku memberi keyakinan. Untuk tidak menambah kalut pikiran ibu, akupun mengurungkan niatku untuk menceritakan kejadian sebelumnya. Sampai sekarang dia tak tahu kalau sebenarnya percobaan perkosaan ini sudah untuk ketiga kalinya menimpa anak gadisnya. Pikirku biarlah masalah ini kupendam sendiri, yang penting kegadisanku masih utuh. Aku hanya berharap jangan sampai terulang lagi.

Hari-hari selanjutnya kucoba menenangkan diri sambil terus memperbaiki sikapku. Aku juga mulai mengisi hari-hariku dengan kesibukan. Daripada tidak Sekolah, aku ikut kursus komputer dan Bahasa Inggris. Bukan itu saja, diwaktu-waktu senggang aku masih sempatkan ikut fitnes, meski hanya sekali atau dua kali seminggu. Sungguh, dengan ikut fitnes itu tubuhku makin tampak padat berisi dan kata teman-teman aku tambah cantik. Tapi walaupun begitu aku jarang sekali memakai rok, apalagi rok mini. Aku lebih suka memaka celana panjang dengan baju yang tertutup.

Abahku juga rupanya sudah menyadari kesalahannya dan tak pernah lagi melirik-lirik diriku. Mungkin takut sama ibu. Mereka berdua tampak lebih sibuk mengurusi tokonya yang selalu ramai dengan pengunjung.

Disaat-saat aku mulai tenang, timbul masalah-masalah baru dalam hidupku. Dua orang paman tiriku, saudara abah tiriku sama-sama mencintaiku. Pamanku itu kakak beradik, tapi hatiku berkata lebih senang adiknya. Bukan saja usianya yang lebih pas dengan usisiaku, tapi juga wajah adiknya lebih ganteng.

Rupanya mereka berdua, sebut saja Paman A dan Paman B saling bersaing ketat untuk merebut hatiku, meski di antara mereka tak saling tahu. Entah mengapa aku begitu sulit menolak ajakan mereka. Makanya ketika A membelikan cincin atau keperluan lainnya, akupun menerimanya saja. Padahal Jujur kukatakan aku tak begitu suka dengannya. Kepada B aku suka, tapi sayang terlalu pecemburu. Aku khawatir terjadi apa-apa di antara mereka.

Pada saat bersamaan aku berkenalan dengan Kus, seorang rnahasiswa sebuah PTS di Surabaya. Pemuda ini cukup terpelajar, akupun senang. Herannya, yang mengenalkan Kus kepadaku adalah paman B. Mereka adalah teman akrab. Aku betul-betul dibuat bingung oleh ketiga laki-laki ini. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan. Kus sendiri mengaku telah punya tunangan. Tapi katanya dia lebih mencintai aku.

Dalam usia 19 tanun sekarang sebenarnya aku juga sudah kepingin kawin. Tapi siapa di antara ketiga laki-laki itu yang layak kupilih? Dengan A atau B tidak mungkin, sebab bagaimanapun dia adalah pamanku, meski hanya paman tiri. Dengan Kus aku masih ragu, walaupun seandainya disuruh memilih aku pilih dia.

Dalam kebingunan, rasanya aku ingin pergi jauh untuk menenangkan diri. Aku ingin kerja, meski itu di luar negeri sekalipun. Tentu pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan yang kumiliki. Tapi dimana?
T A M A T

Mengenang satu Tahun itu

Posted: 02 Oct 2011 02:49 PM PDT

Mengenang satu Tahun itu

Malam itu aku sedang berbaring di atas tempat tidurku, tapi perasaanku sedang kalut, pikiranku sudah tak menentu, sudah satu tahun berlalu semenjak aku mengenal Lucy, kini ia sedang melakukan Kerja Praktek di Malang, dan hendak menyelesaikan skripsinya.

Aku melirik ke jam dinidng di kamarku, pukul 11 lewat 6 menit.
"Huh.. huh.. huh.." nafasku terengah-engah.
Ingin rasanya aku segera terlelap dan tidur, tapi pikiran dan penisku tak dapat diajakkompromi. Selain hawa di kamarku sangat panas, ditambah pikiran-pikiran kotor yang sudah mulaimerasuk ke benakku, rasa gelisah itu terus menyerangku.
"Sudah lama aku tidak melakukannya.." pikirku, "Kenapa sekarang hal ini tiba-tiba muncul lagi dalam benakku..?"

Tak kuasa menahan gejolak jiwa dan rangsangan ini, aku beranjak turun dari atas tempat tidurku. Kudekati kulkas yang berada di sebelah meja tulisku. Kubuka dan kuambil 2 botol Lipovitan dingin dari dalamnya, segara kuminum 2 botol sekaligus. Kemudian aku terduduk di atas kasurku. Ruangan kamar kostku yang tidak begitu luas (hanya 3 x 4 meter) itu terasa amat sesak. Penisku masih sangat tegang, dan biji kemaluanku mulai berdenyut, keringatku mulai bercucuran, tubuhku menjadi Panas.
"Ah.. aku sudah tidak tahan lagi.." pikirku.

Langsung kubuka celanaku, dan kumulai memegang penisku. Aku dapat menggenggamnya hanya dengan tangan kananku. 7 cm panjangnnya dengan diameter 2,5 cm. Kumulai mengelus-elusnya, kemudian meremasnya keras-keras, ah sungguh nikmat rasanya. Tapi hatiku masih merasa risih, karena aku sudah lama sekali tidak melakukan hal semacam ini lagi. Tapi disamping itu, pikiranku yang lain sudah menerawang jauh membayangkan hal-hal yang pernah kunikmati setahun yang lalu.

Aku pun beranjak dari kasurku, sambil tetap memegang penisku aku menuju lemari pakaianku, kubuka, dan segara kuambil bra warna hitam, dan juga stocking hitam. Segara kupakai, dan aku mulai terangsang sangat hebat. Penisku sudah semakin panas, padahal belum kukocok sama sekali, baru kuelus-elus. Seluruh tubuhku juga sudah panas dan tegang. Dengan memakai bra dan stocking warna hitam kesukaanku, aku segera naik ke atas tempat tidur, tak lupa juga aku memakai Durex, karena aku tak mau air maniku membasahi stocking yang kubeli dengan mahal ini.

Segera aku berbaring. Dengan perlahan, aku mulai mengocok penisku, dan sangat perlahan aku sudah mulai merasakan otot-otot pinggangku mulai tegang. Hanya kukocok sekitar 4 menit, aku sudah tak tahan lagi. Ah.., desiran air maniku mengalir dan memuncrat keluar tertahan di Durex yang kupakai dan penisku terasa linu.

Aku masih terengah-engah. Kulihat jam lagi, ternyata sudah jam 12 kurang 10 menit. Dengan keadaan masih lemas, aku beranjak dari tempat tidurku. Kuambil air dingin dari kulkas dan kuteguk segelas.
"Ah.. segar rasanya.." kataku dalam hati.
Kemudian aku mulai berpikiran untuk melanjutkan hal ini, karena barusan aku merasa kurang puas.

Segera kubuka lemari pakaianku, kuambil t-shirt boddypress warna hitam dan rok jeans ketatku, dan segera kupakai. Saat itu aku sedang malas memakai panty, dan durex itu masih melapisi penisku yang masih setengah tegang. Kupakai sepatu favoritku yang terbuka dan dengan tali-tali yang sungguh indah, berhak 8 cm. Tak lupa kupakai wig sebahu.

Aku segera mengambil kunci mobilku, dan aku keluar dari kamar kostku, dan segera kupergi. Saat itu dalam perjalanan hatiku berdebar-debar, sedangkan penisku sudah mulai mengecil. Saat itu tujuanku hanya satu, yaitu jalan Van Deventer.

Kurang lebih 12 menit, aku telah tiba disana. Aku memelankan mobilku sambil melihat-lihat di pinggir jalan. Ketika melihat pada waria yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu orderan, tiba-tiba aku merasa mual.
"Ah.., apakah hal seperti ini yang harus kutempuh.. Aku belum pernah melakukannya dengan waria, aku hanya mengingat pengalamanku bersama Lucy saja.." pikirku.
Dan aku melihat setiap waria yang berdiri disana, tampaknya mereka sudah berumur 24 tahunan. Saat itu aku menjadi tidak berselera, karena pikirku, "Wah.. masa aku ngelakuin ini ama mereka, mana kagak ada yang muda lagi..!"

Sambil terus menjalankan mobilku dengan pelan, aku memperhatikan mereka. Sebagian dari mereka melambai-lambaikan tangan mereka ke arah mobilku, ada juga sebagian yang sedang memoles wajahnya dengan bedak, ada juga sebagian yang sedang duduk-duduk sambil merokok.

Tiba-tiba kulihat seorang waria yang nampak masih muda sekali, wajahnya pun masih tampak segar, dan tidak di-make-up terlalu menor, hanya polesan tipis dengan Lip color pink. Dia memakai rok putih selutut dan t-shirt putih ketat, dipadu dengan jaket jeans.

Segera kudekatkan mobilku ke tempat dia berdiri. Kubuka kaca jendela dan aku mulai mamandanginya. Merasa ada yang mendekati, dia pun menoleh.
Kemudian bertanya dengan pelan, "Hi.., Mba.. mau saya temenin yach..?"
Dengan masih terheran-heran, aku mengangguk. Dia pun langsung masuk ke mobilku melalu pintu samping kiri.

Setelah duduk di sampingku dia langsung bertanya, "Mau dimana Mba, disini.. atau dimana..?"
Kemudian aku memberanikan diri bertanya dan berkata, "Tunggu dulu, umurmu berapa sich..?"
Mendengar suraraku dia pun sedikit kaget, "Eh.. saya panggilnya kakak.. Mbak.. atau Mas..?" katanya.
"Kakak saja.." sahutku.
"Saya umurnya 17 tahun Kak..!"
"Wah, mengapa kerja ginian..?"
"Terpaksa Kak.., Ortu saya sudah tak ada, selama ini saya tinggal ama Cici saya, tapi sekarang Cici saya sudah menikah.. jadinya jarang ke rumah, kebanyakan ama suaminya, sedangkan sekarang saya perlu biaya buat sekolah, bentar lagi ebtanas lagi.." dia bertutur dengan polos.

"Lalu.., kamu mulai kerja gini sejak kapan..?" tanyaku.
"Ya baru seminggu sich Kak..!" sahutnya.
"Sudah dapet langganan belom..?" lanjutku.
"Yach baru kemaren aja dibooking ama mahasiswa umur 22 tahun, katanya sich dia lagi bosen ke Alketeri, jadinya kesini.." jawab dia.
"Oh iya, kenalan dulu, nama kamu siapa..?" kataku sambil menjulurkan tanganku.
"Mey li Kak..!" sahutnya.
"Aku Ronny, atau Venny juga boleh.." kataku.
Dia pun mengangguk sambil tersenyum.

"Hari ini belom dapet bookingan yach..?"
Dia pun mengangguk, segera kujalankan mobilku.
"Kuajak dia ke kamar kostku saja nih.." pikirku.

Setelah sampai, aku segera mengajaknya masuk.
"Wah.. Kakak sendirian disini..?"
"Iya.., tapi sekarang kan ada kamu.." kataku sambil melirik ke arahnya.
"Mau sekarang aja kak..?" kata dia dengan pasrahnya.
"Wah.. kamu udah makan blom..?" tanyaku.
"Udah sich tadi sore.."
"Nih kalo kamu lapar.." kataku seraya memberinya sebungkus Good Time.
"Nanti aja dech Kak, makasih, sekarang mah kita maen aja yach..!" katanya.

Dia segara berbaring di atas kasurku sambil mulai mebuka t-shirt ketatnya, dan mulai melepaskan roknya. Saat itu kulihat kakinya sungguh indah dan mulus.
"Wah.., kakimu mulus banget..!" kataku.
"Ya.., saya sudah minum pil sejak umur 15 tahun." katanya.
"Wah.., gimana kalo saya yang di bawah..?" kataku.
"Oh, Kakak mau yang di bawah.., tapi saya nggak ahli, saya biasanya pasrah aja di bawah.." sahutnya.
"Ya, kali ini kamu aja yang di atas.., cobain aja dulu..!" kataku.

Dan segera aku berbaring berposisi 69 dengan Meyli. Aku masih memakai pakaian, sedangkan dia hanya memakai bra dan panty saya. Meyli pun segera mengangkat rok saya, dan segera penisku tegak lagi. Dia melepaskan Durex dari situ, dan kemudian dia mulai mengulum penisku. Saat itu perasaanku sudah tidak menentu. Dia dengan nikmatnya menjilati penisku, dan aku pun sudah merasa geli dan tegang.

"Ah.., aku belum beraksi.." pikirku.
Segara kutarik panty yang dia pakai, dan terlihat penisnya kecil dan tidak tegang.
"Kamu nggak 'in' yach..?" tanyaku.
"Wah.. susah Kak.. kayanya testoteronku ketilep.., Kakak bantuin donk..!" pintanya.
Segara aku meremas penisnya dan menariknya sambil kuelus-elus sebentar.
"Lama sekali.." pikirku.

Baru sekitar 5 menit, penis Meyli mulai tegang, dan akhirnya ereksi. Lumayan 6 cm. Saat itu aku ingin memberi kejutan padanya. Dengan menggunakan kedua tanganku, kuremas penisnya dan segera kukocok dengan sangat cepat.
"Ahh.., terus Kak.., terus..!" katanya.
"Kak.., kok nikmat sekali yach..! Belum pernah nich..!" katanya sambil masih asyik mengulum penisku.
"Mey.., yang aku juga donk..!" kataku.
"Oh iya.., bentar ya Kak.."

Dia mulai memegang penisku dengan tangannya yang lembut dan lentik serta kukunya yang rapih.
"Ah.., dia terlalu cantik dan muda untuk jadi seorang pelacur waria, sayang sekali.." pikirku.
Dan dengan gerakan yang mantap, dia mulai menggoyang-goyangkan penisku, dan megocoknya. Tak lama, hanya 4 menit air maniku sudah kemana-mana.
Aku pun berteriak, "Ah.. ah.. nggak tahan..!"
Memang aku ini kalau onani tak pernah bisa tahan lama. Dan akhirnya punyanya Meyli pun keluar. Lumayan lama, sekitar 7 menit, itu pun sudah kukocok dengan cepat dan dengan penetrasi yang baik, sampai-sampai Meyli terengah-engah.

"Hah.. hahh.. udah Kak.. kelluar.. keluar.. " sahutnya.
"Mey.., sini donk..!"
Dia pun berbalik, kali ini kami berhadapan. Dia di atas dan aku di bawah.
"Mey.., tolong lepasin rok Kakak donk..!" pintaku.
"Oke Kak.."
Dan setelah itu, aku melepas bra-nya dan mulai meremas-remas payudaranya yang mungil.

"Ah.., Kak.. terus.. terus..! Wah nggak adil donk..!" sahutnya, "Kakak boleh anal dech.." katanya.
Dan dia pun mulai berusaha memasukkan penisku ke lubang analnya sambil aku terus-terus meremasnya. Keringat kami sudah bercucuran, dan selangkangan serta wajahku pun sudah lengket oleh air mani. Dan dengan gerakannya yang sulit dideskripsikan, dia menaik-turunkan pinggulnya, sehingga penisku yang berada di lubang analnya mulai dipenetrasi kembali. Kami sama-sama sudah lupa daratan pada saat itu. Aku pun sama-sama terengah-engah dan mengerang.

"Peran Meyli sebagai cewek sungguh bisa dibilang jempolan, dia polos dan apa adanya.." pikirku.
Dan setalah lama kami melakukan, akhirnya, "Creett.. creett.. srr.." air maniku mulai muncrat membasahi lubang anal Meyli.
"Hahh.. haah.. hahh.. aahh.." nafasku terengah-engah, begitu pula Meyli.
"Sudah ya Mey, Kakak cape nich..!"
"Iya Kak.., tapi Kakak sungguh beda lo.. Beda kalo bisanyanya Mey dibooking ama yang laen mah cuma ngelampiasin doank.., Mey nggak rasa nikmat. Tapi sama Kakak asyik banget, beda rasanya.." katanya polos.
"Ya sudah, sekarang kita tidur saja, besok kuantar ke rumahmu.., Oke..?" kataku.
Dia pun mengangguk dan segera berbaring di sampingku.

Esok paginya aku bagun duluan. Kulihat Meyli masih terlelap dengan senyuman.
"Wah aku masih memakai bra, stocking dan sepatu.." pikirku.
Saat itu aku segera ke WC untuk membersihkan diriku. Dan setelah selesai, aku segera membangunkan Meyli.
"Mey.., ayoo.., hari ini kamu sekolah nggak..?"
"Iya Kak, sekolah siang jam 12.30.."
"Ayo, kamu mandi dulu. Nich ambil aja bra ama panty yang bersih dari lemari.., yang kamu khan udah kotor dan basah.."
Dia pun mengangguk sambil mengambil dari lemariku, dan kemudian mandi.

Setelah beresm, kami pun berangkat. Dan aku mengantar ke rumahnya. Tak lupa kuberikan satu lembar seratus ribuan kepadanya.
"Wah Kak, banyak amet.. biasanya kalo yang booking sama paling noban.." katanya.
"Ya sudah, nggak apa-apa.. aku ikhlas kok..!" kataku sambil tersenyum.
"Kakak harap kita bisa terus temenan.. Oke..?"
Dia mengangguk.

Setekah turun dari mobil, dia melambaikan tangannya.
"Dadah.., makasih ya Kak.., Meyli puas and happy kemaren.."
Aku pun mengeluarkan kepalaku lewat jendala seraya berkata, "Sama-sama Mey.."
Waktu di mobilku menunjukkan 10.47 AM.
"Hm.., kasian juga dia.. harus kerja seperti itu buat hidup.."

Itulah salah satu alasan mengapa aku suka meneliti tentang kehidupan waria. Aku sendiri termasuk seorang Transvestis/Crossdress.
T A M A T

Main Dengan Istri Majikan

Posted: 02 Oct 2011 02:48 PM PDT

Proyek Majikan

Namaku adalah Herman, sebagai seorang pebisnis muda aku sudah bisa dikatakan sukses. Aku bisa berkata begitu karena selain punya usaha yang mapan, rumah yang mewah, aku juga memiliki seorang istri yang cantik bernama Ivana. Tetapi ada satu hal yang membuatku tak bisa dikatakan sebagai laki-laki yang berhasil, bahwa aku sendiri sams sekali tak bisa memberikan nafkah batin bagi istriku. Keadaan ini terjadi pada tahun kedua perkawinanku, dimana saat itu aku mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku. Akibat dari kecelakaan itu dokter bilang bahwa aku tak bisa lagi memberi nafkah batin, apalagi keturunan bagi istriku. Hal ini membuat aku dan Ivana cukup terpukul, namun kami berdua telah berjanji bahwa ini hanya rahasia diantara kami berdua.


Pada tahu keempat perkawinan kami, orang tua kami mulai bertanya kapan kami bisa memberi mereka cucu. Aku dan Ivana hanya bisa menjawab segera mungkin, padahal dalam hati kami menangis karena telah berbohong pada orangtua kami berdua.


Suatu hari aku entah darimana mendapat ide gila, dan ketika kusampaikan pada istriku seperti yang sudah kuduga ia menolak mentah-mentah ideku tersebut. Ide yang kumaksud adalah aku akan mencarikannya laki-laki lain untuk menghamilinya. Terus terang hali ini kulakukan karena tidak tega melihat Ivana istriku, terus menerus dipuaskan nafsuny adenagan sex toys, padahal aku tahu ia sendiri tidak puas.


Akhirnya dengan segala bujuk rayu akupun berhasil membuat Ivana setuju dengan rencana ini.
" Tapi mas bagaimana kalau aku hamil apa kamu, masih akan mencintaiku ?" tanya Ivana padaku.
" Tentu saja sayang aku juga melakukan ini agar kamu bisa mendapatkan kepuasan serta agar kita berdua bisa punya anak." jawabku padanya.


Kami berdua telah setuju, tinggal mencari laki-laki yang mau melakukannya. Hal ini memang sulit karena Ivana mengajukan persyaratan bahwa ia mau melakukannya tapi harus dengan yang masih perjaka, alasanya agar tidak terkena penyakit kelamin. Akhirnya setelah mencarinya kami menemukannya, ya nama pemuda itu adalah Bima, seorang pemuda berusia tujuhbelasan. Ketika aku bertanya pada Ivana apa ia mau dengan pemuda itu ia tak menolak, karena ia yakin masih perjaka.


Tidaklah sulit membuat Bima tinggal dirumah kami, orang tua Bima adalah pesuruh dirumah mertuaku, dengan alasan menjadikannya sebagai pesuruh dan satpam dirumah kami, kami berhasil mengajak Bima untuk tinggal bersama kami.


Selama beberapa hari tinggal dirumah kami aku dan Ivana mengecek sifat dari Bima, dan kami berdua setuju bahwa rencana kami dapat dilakukan. Malam ini kami berdua akan segera melakukannya.


Malam itu aku sengaja memanggil Bima ke dalam kamar agar bisa menjalankan rencana kami. Terdengar suara ketukan dipintu lalu kemudian suara.
" Pak permisi apa saya boleh masuk" kata Bima tanpa sadar apa yang akan dia temui
" Masuk Bim pintunya tidak dikunci" jawabku padanya.
Lalu iapun masuk dan terkejut melihat Ivana istriku tidur telanjang dada di kasur sementara bagian bawah tertutup selimut.
" pak ada apa ini, lagipula kenapa ibu telanjang begitu?" tanya Bima.
Sudah kuduga dia ini cukup polos orangnya, lalu segera saja akupun menjawabnya.
"Bim bapak mau minta tolong, kamu mau kan. Bapak mau kamu puasin ibu malam ini kalau bisa buat ibu hamil, kamu bisa kan." Kataku padanya.
"tapi pak ,tapi."
Tanpa kuduga Ivana bangkit dari tempat tidur lalu menuju Bima. Segera saja ia membuka celana milik Bima lalu iapun meraih batang miliknya kemudian mengulumnya.
Bima tak bisa berbuat apa-apa ia kaget ketiak melihat tubuh polos Ivana yang kemudian segera memainkan batang miliknya.
"Anggh bu aku ngak tahan aku seperti mau kencing," katanya
" Keluarkan saja Bim aku ingin meminumnya." Jawabnya.
Ternyata Ivana mulai menjadi liar selama dua tahun tak mendapat kehangatan seperti itu, telah membuatnya lupa diri dan menjadi liar. Aku yang melihat sangat senang ternyata Ivana bisa mendapatkan kepuasan, agar tak mengganggu aku memutuskan keluar dari kamar.
Tak lama kemudian Bima mulai mengeluarkan air maninya, tanpa pikir panjang Ivana segera menghisap habis semuanya sambil membersihkan batang Bima dengan lidahnya.
Selanjutnya Ivana segera naik ketempat tidur sambil berkata.
"Buang semua pakaianmu lalu bantu aku Bim, malam ini kamu harus bisa untuk memuaskanku" Katanya pada Bima.
Seperti diduga Bima masih sedikit bingung tapi ia segera melakukan apa yang diperintahkan oleh istriku.
Di lain pihak setelah melihat Bima dalam keadaan telanjang bulat, Ivana istriku kagum dalam usia masih muda batang miliknya sudah besar, pasti ia akan puas malam ini pikir istriku.
Bima yang masih binggung harus berbuat apa setelah melihat dari dekat tubuh istriku, mulai melakukan apa yang diperintah oleh Ivana.
" Bima ayo puaskan ibu, coba kamu remas dan hisap susu ibu, ayo Bim."
Bima pun mulai meremas dan menghisap susu istriku, sampai istriku berkata.
"Auch Bim jangan kamu gigit ibu sakit." Katanya
"maafin Bima bu Bima ngak sengaja, maafin bima lagi ya bu." Kata Bima dalam nada memelas seolah takut dimarahi.
"ya udah ibu maafin sekarang kamu jilat memeq ibu tapi pelan-pelan ya."
Bima pun segera menjilati memeq istriku sambil tangannya meremas susu milik istriku.
"Bu memeq ibu kok wangi?" tanya Bima
"Kamu suka Bim, coba sekarang kamu masukkan jari kamu ke dalamnya bim."
Bima pun segera melakukan apa yang disuruh, tak lama kemudian Ivana istriku mulai mendapat orgasme pertamanya saat Bima menghisap memeqnya.
"Apa ini bu kok asin tapi lengket." Tanya Bima.
Ivana istrku sedikit geli mendengar ucapan Bima, lalu iapun bertanya padanya.
"Bim ibu mau tanya kamu dah pernah beginian ama perempuan apa belum?"tanya istriku pada Bima.
"Belum bu sama ibu justru yang pertama karena saya kaget ketika melihat ibu telanjang lalu mainin punya saya."jawabnya.
"Jadi kamu masih perjaka, kalau gitu kamu suka ngak ma tubuh ibu?" Tanya istriku.
"Suka bu tubuh ibu bagus apalagi memeq ibu wangi." Jawabnya
"Jadi kamu mau kan bikin ibu puas malam ini, apa kamu takut Bim sama bapak."
"Saya takut sama bapak kalau saya dituduh berbuat tidak baik ama ibu."
"Kamu ngak usah takut Bim tujuan kamu bapak ama ibu sama bawa kesini supaya kamu bisa membuat ibu hamil, jadi kamu mau kan. Kalau kamu mau coba bawa bantal kecil itu kemari Bim." Pinta istriku.
Bima pun segera bangkit dan mengambil bantal kecil yang ada di kursi, kemudian memberikannya pada Ivana istriku. Ivana pun segera memakai bantal kecil itu dibawah pinggulnya, ia mencoba buat posisi dimana ia bisa cepat hamil.
"Bim gimana apa kamu dah siap?" tanya istriku.
Bima pun segera bersiap ia meletakkan batangnya tepat dimulut vagina istriku.
"Pelan-pelan Bim sudah lama ibu tidak dimasuki batang yang asli apalagi sebesar punyamu itu, angggh pelan Bim ibu sakit."
Aku tahu istriku pasti sakit sebab setelah aku dinyatakan impoten oleh dokter, walaupun ia mendapat kepuasan dari sex toys, istriku sama sekali tidak mau memakai dildo. Istriku itu hanya mau memakai vibarator getar yang dipasang pada clirotisnya.
"Maaf bu habis punya ibu sempit sekali jadi Bima harus sedikit maksa masuknya."
"Ya sudah, ibu dah ngak sakit lagi sekarangkamu dorong maju mundur ya."
Bima pun mulai memainkan miliknya didalam vagina istriku.
"Bu mentok bu."
Ivana kaget tapi ia melihat masih ada batang milik Bima yang ada diluar. Ivana berpikir anak selain besar ternyata panjang juga.
Setelah limabelas menit memainkan batangnya Bima merasa ia akan keluar lagi.
"Bu rasanya saya mau keluar."
"Ibu juga bim kita keluar sama-sama didalam. Anggggh Bim ibu keluar."
Bima merasa batang miliknya diguyur sesuatu kemudian ia dipaksa lebih intim lagi dengan istriku, karena Ivana melingkarkan kakinya sehingga Bima seperti terkunci. Tak lama kemudian Bima mulai mengeluarkan pejunya.
"Bim jangan ditarik dulu ibu mau kamu keluar semua dulu, lalu kalau ibu dah bilang boleh baru kamu tarik keluar."
Ya selama beberapa menit Bima dan istriku saling tindih. Istriku ingin agar sperma milik Bima bisa segera masuk kerahimnya dan membuat dirinya hamil. Tak lama Bima segera rebahan dikasur, ia sepertinya puas. Dipenisnya tampak sisa cairan darinya dan Ivana.
Ivana yang melihatnya segera membersihkan batang itu dengan mulutnya. Ia seperti masih belum puas dengan hubungan intim yang baru saja terjadi.
"Bim kamu masih kuatkan ibu masih kepengin lagi. Pokoknya kamu malam ini harus bisa muasin ibu." Kata Ivana.
"Baik bu."
"Ngak kamu panggil bu coba sekarang kamu panggil saja mbak." Kata istriku.
"Baik bu eh mbak tapi saya haus ingin minum."kata Bima.
"Ya kamu minum dulu dimeja ada air." Kata Ivana yang bangkit dari tempat tidur lalu meminum jamu yang telah disiapkan.
"Mbak itu apa kok kaya jamu sih?" tanya Bima.
"Iya ini emang jamu tapi jamu buat kesuburan kamu juga harus minum ini ya Bim agar mbak bisa cepat hamil." Kata Ivana pada Bima.
Bima pun meminum jamu itu, lalu ronde kedua dengan Ivana dimulai.
"Bim mbak mau tanya kamu pernah ngak lihat tubuh wanita telanjang sebelumnya?"
Bima pun menjawab.
"Kalo lihat pernah, waktu itu lagi ngintip gadis yang pada mandi di sungai, tapi kalo main ama mbak justru yang pertama."
"Uh kamu bikin mbak greget ayo masukin punya kamu jangan mainin tangan kamu terus disusu mbak nanti mbak marah lo."
Ya yang terjadi malam itu Bima dipaksa oleh istriku agar mau melayani nafsunya yang telah dipendam selama dua tahun. Berbagai macam gaya diajarkan pada Bima tapi yang sering dilakukan adalah gaya yang cepat membuat hamil, yaitu gaya dimana pinggul diangkat sehingga air mani cepat masuk ke rahim.
Pagi harinya aku kembali masuk ke kamar kulihat Bima masih saja main dengan istriku, tapi kali ini posisi doggie.
"Ana apa kamu masih belum puas, tadi malam emang berapa kali?" tanyaku.
"Enam kali sama yang sekarang, heh heh heh….., mas mau kerja ya kalo gitu tunggu bentar ya setelah ini selesai aku mandi lalu siapin makan." Kata Ivana.
"Ngak usah kamu puasin aja dulu, aku gampang kok bisa sarapan dikantor."
Begitulah sampai berangkat kekantor aku masih melihat Ivana main dengan Bima, dalam hati aku puas karena bisa melihat senyum Ivana lagi.
Pulang dari kantor akupun bertanya pada dia.
" Ana sampai jam berapa kamu main sama Bima, kelihatan ampe loyo gitu?" tanyaku.
"Sampe jam dua siang, emang seling ama makan dan tidur. Tapi aku maen sepuluh ronde ama dia, aku aja sampe ngak kehitung berapa kali orgasme mas." Jawab Ivana.
"Tapi kamu baik aja kan, dia ngak kasar ama kamu kan."
'Ngak mas, mas malam nanti aku minta ijin mau main lagi ama Bima boleh ngak mas." Pinta istriku.
"Boleh aja tapi kamu harus inget, kamu jangan sampe dikasari ama dia." Jawabku.
Ya malam-malam selanjutnya akupun merelakan Ivana istriku tidur dengan lelaki lain yaitu Bima.
T A M A T

No comments:

Post a Comment